Sabtu, 26 November 2011

MENGUAK TAKDIR - 5


                 
KEMAMPUAN MANUSIA MENGUAK TAKDIRNYA
           
            Dari ayat - ayat takdir yang sudah dikumpulkan, rasanya kita akan tertegun diantara dua alternatif, tunduk kepada hukum takdir atau dengan qadha dan qadar yang ada didalam diri kita berusaha menguak takdir.
            Karena itu dibutuhkan penalaran yang sungguh-sungguh agar kita tidak tersandar pada salah satu dinding dalam keraguan, sehingga menggoyahkan iman dengan meneliti ayat-ayat tersebut dan memahaminya bahwa kekuatan qadha dan qadar itu bertingkat-tingkat.
            Hukum qadha / qadar itu ada yang mengisi alam benda, qadha / qadar yang mengisi alam  nabati, hewani,  insani dan qadha / qadar yang mengisi alam yang diatas manusia.Tumbuhan dapat menguasai alam benda, dan hewan dapat menguasai alam benda dan tumbuhan.  Manusia dapat menguasai qadha / qadar yang ada dalam tiga alam yang dibawahnya dan dirinya serta dapat mengatasi sebagian kecil qadha / qadar yang diatasnya dengan kadar dan kodrat yang menjadi miliknya kalau ia menguasai rahasianya. Kekuatan yang diatas manusia tentu dapat ditaklukkan dengan kekuatan yang lebih tinggi bila Allah memberi energi lebih berupa mukjizat, karena itulah maka manusia memohon kekuatan itu.  Rasulullah bersabda :                                                                               
قال  رسول الله صلعم : لا يرد القضاء الا الدعاء ولا يزيد العمر الا البر وان الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه (رواه الترمذي وبن حبان )

“Tidak ada yang mampu menolak ketentuannya ( Qadha ) keculi dengan doa dan tidak ada yang akan menambah umur melainkan perbuatan baik , dan sesungguhnya seseorang manusia diharamkan baginya rizki dengan dosa yang menimpanya”. ( H.R Tarmizi dan Ibnu Hibban ).

             Untuk menguasai alam benda, alam tumbuhan dan alam hewan, manusia diharuskan menggali dan mencari ilmu yang berhubungan dengan hal tersebut. Terbukti dengan ilmu fisika, kimia, biologi geografi dan ilmu-ilmu lain yang berfungsi sebagai pendukung, maka manusia telah menemukan cara merubah nasib, dengan memanfaatkan sumber daya alam berupa anugerah Allah yang berlimpah ruah.
             Memang alam telah dibentuk dengan kekuatan hukum (sunnatullah) karena itu alam terus berkembang secara otomatis berekspansi dengan kekuatan sunnatullah yang  menggerakkannya. Para pakar astronomi mengatakan bahwa alam terus berkembang, langit tidak ada batasnya dan galaksi terus lahir, sementara yang lama sudah ada yang punah, begitu silih berganti dan tak pernah berhenti. Analisis pakar astronomi ini tidak bertentangan dengan konsep ajaran Al-qur’an..
              Demikian juga tumbuh-tumbuhan juga digerakkan oleh kekuatan qadha, qadar dan qodrat, akan tetapi yang dimiliki tumbuhan hanya dapat menguasai dan mempengaruhi alam benda (Tanah ) dan merobah nasib sang tanah. Tanah yang memiliki kesuburan yang cukup lalu dihisap tanam-tanaman akhirnya tanah kehilangan zat-zat dirinya, lalu menjadi gersang, si tanah tidak mempu mengubah nasib malangnya itu.. Binatang memiliki qodrat/ qodar yang lebih tinggi dari tumbuhan maka binatang mampu menguasai dunia tumbuhan dan mempengaruhi nasib tumbuhan menjadi Madang padahal  tanah tempatnya tumbuh sangat subur tapi nasib tumbuhan itu  menjadi malang karena daunnya dimakan binatang. Tapi manusia dijadikan sebagai makhluk yang lebih baik dari binatang maka manusia dapat menguasai alam benda, tumbuhan dan hewan dapat mempengaruhi nasib dan takdir semua makhluk yang dibawahnya. Batu yang terbenam dalam tanah, diolah oleh manusia menjadi batu berharga, maka terangkatlah nasib dan takdir sang batu karena manusia. Anggrek yang tumbuh dihutan dengan bunganya yang cantik kini dibiakkan didalam taman, namun yang bernasib malang lebih banyak seperti pohon jati, pohon meranti yang menyangga bumi kini telah ditebang dijadikan papan dan beroti. Walaupun qadar dan qodrat yang mengisi tumbuhan itu sama (seperti padi) namun nasibnya tidak sama. Perhatikanlah padi yang terkena hama wreng tidak akan menghasilkan buah yang sama dengan padi yang selamat dari hama wreng dan mendapat pupuk.
              Begitu juga tentang nasib dan takdir binatang. Dulu kuda adalah binatang liar, kini kuda adalah binatang ternak yang jinak. Malah singa, harimau, gajah dapat diajak bermain dengan manusia, (  permainan sirkus ) mereka adalah binatang yang bernasib baik, sementara yang lain berapa banyak binatang yang mati disembelih manusia untuk kesenangan hidup, berapa banyak binatang yang diburu hanya untuk diambil gadingnya, diambil culanya atau kulitnya untuk kesenangan. Takdir binatang ini telah dikuakkan oleh manusia, lalu alam dan masa memberi kesempatan kepada generasi manusia untuk bertumbuh dan berkembang sehingga manusia dapat menguakkan takdirnya sendiri.
              Agar manusia mampu menguakkan takdir dan mengubah nasibnya agar menjadi baik haruslah ia mampu memperbesar qodrat/ iradat dalam dirinya dengan cara :

Pertama
         Mereaksikan :
a.       Kekuatan iman dan yakin, yaitu percaya diri yang terikat dengan kepercayaan   kepada Allah.
b.             Kekuatan ilmu / pengetahuan / keterampilan.
c.              Memperbesar aktivitas dan kreativitas diri. Ketiga faktor tersebut diatas direaksikan sehingga menjadi  “daya upaya

Kedua

         Memperbesar “energi  diri dengan cara  banyak beribadah dan “latihan  spiritual “.

    Allah   berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ(1)

“Hai orang-orang beriman, dirimu adalah untuk kamu tidak akan                     mendatangkan mudarat orang yang sesat apabila kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. 5 /Al- Maidah  : 105)

              Dalam ayat    diatas terdapat kata :  “alaikum amfusakum “ yang     artinya “ untuk kamulah dirimu” maksudnya diri kita untuk kita pakai sendiri bukan untuk orang lain, untuk dimanfaatkan orang lain, diperbudak orang lain. Diri pribadi manusia merupakan padatan energi, karena itu   diri  merupakan sumber daya. Jadi manfaatkanlah sumber daya diri itu agar sumber daya alam berupa anugerah Ilahi itu dapat diraih sebesarnya-besarnya.
              Dengan latihan kejiwaan dan ibadah yang khusuk manusia dapat  memperbesar Daya dirinya dengan sentuhan energi- Ilahy, seperti layaknya arus listrik yang tertentu 450  watt dengan tidak melalui meterannya kita dapat memakai energi lebih dari 450 watt, malah tak terhingga. Daya upaya itu merupakan usaha memadatkan energi fisik dan pikiran serta jiwa untuk membangkitkan energi yang lebih besar sehingga dapat digunakan untuk menguak taqdir dan mengubah nasib.

Ketiga

Berusaha mengubah Nasib/Taqdir

Selama nyawa masih dikandung badan kita masih berpeluang untuk  mengubah takdir & Nasib  buruk menjadi baik sesuai dengan tuntutan Islam. Ada sepuluh macam cara yang mungkin bisa ditempuh.
     
.        a.  Merubah sikap dan Keperibadian :
.  b.  Memberdayakan Zakat untuk membangun Perekonomian
      c.  Menggiatkan  Sedekah, Infaq dan Hadiah
      d.  Memberdayakan Asuransi.
      e.  Membangun  Kooperasi
      f.  Gigih dan kerja keras
      g.  Melaksanakan Amar Ma’ruf / Nahi Mungkar
      h.  Melakukan Hijrah
      i.  Berjihad dan berda’wah
      j.  Menumbuhkan sifat menolong /menggiatkan Ta’awwun

a.            Merubah  sikap dan Keperibadian
Nafs ( Diri ) yang dimaksud dalam Islam bukan badan Fisik tapi  Diri- pribadi yang didalamnya ada tersimpan daya : Akal-pikir, Hawa Nafsu, Hati, Emosi dan Akal Mubtadi  ( Akal Cipta, Akal Intuisi ) .Dalam diri manusia besar muatan dayanya tidak sama ada orang daya akalnya lemah tapi daya Hati dan Hawa nafsunya kuat ada yang lemah daya hatinya tapi akal dan Hawa nafsunya kuat, ada yang lemah hawa nafsunya  tapi hati dan akalnya kuat sehingga keluar delapan macam type manusia

Hawa Nafsu
Hati
Akal
Warna Keperibadian
+
+
+
Nafs Muth-mainnah, orang yang jiwanya stabil memiliki keperibadian yang kuat. Kemauan dan semangatnya tinggi, perasaannya sangat halus terbungkus dengan pikiran yang terang, sehingga memantulkan keperibadian yang cerdas, berbudi pekerti yang mulia, terampil berkarya,  bersemangat tinggi, optimis dalam menghadapi tantangan.hidup.

+
+
-
Nafs Rahmah orangnya punya kemauan yang keras dengan perasaan yang halus, akan tetapi daya pikirnya kurang kuat jadi ia terpengaruh pada inti jiwanya .Ini akan memantulkan sifat pribadi:  mudah tersinggung tapi mudah memaafkan, semangatnya meluap-luap, kreatif dan berjiwa sosial yang suka mengulurkan tangan.tapi kurang pertimbangan..
+
-
+
Nafs Lawwamah Tipe manusia pemburu kesenangan. Kepintaran yang menyatu dengan kemauannya yang kuat dengan rasa perasaan yang lemah akan memantulkan sifat berani berspekulasi mudah mencari rezki tapi tak pernah merasa puas, selalu tidak mendengarkan suara hatinya, kurang social, tapi pandai bergaul.
+
-
-
Nafs Zholamah Manusia gelap hati dan pikiran,  hanya hawa nafsunya yang bernyala-nyala perasaan dan pikirannya seolah-olah beku membatu.  Ini akan memantulkan sikap   mementingkan diri sendiri, ingin berkuasa, tidak punya rasa sosial, tujuan hidupnya hanyalah untuk kepuasan  hawa nafsu, dalam pikirannya hanya  memburu kekayaan tidak ada baginya rasa menenggang  dan pertimbangan.. 
-
-
-
Nafs Sufahah, ketiga potensi jiwanya lemah.  Adalah gambaran manusia yang kehilangan pribadinya, apatis masa bodoh dan memang ia  dungu, tak bercita-cita. Sikap hidupnya apa adanya saja, tak banyak mengharap dan tak banyak kebutuhannya yang penting cukup makan. Kalaupun ia dilahirkan dalam keluarga kaya namun sikpnya tetap begitu saja, menerima subsidi dan warisan dari orangtua.
-
-
+
Nafs Amarah , tipe manusia yang banyak teori, banyak bicara, suka mengatur, sebenarnya diam diam ia merasa tak mampu berbuat apa apa tapi akalnya cerdas membuat peribadinya pandai mengakal akali, ingin tampil sebagai orang hebat kerena itu banyak bohongnya, omong besar. Pikiran yang kuat membungkus kemauan dan hati yang lemah akan menampilkan keperibadian pemikir yang hanya banyak berteori tak mampu melaksanakan gagasannya, orang ini tak punya rasa malu. 
-
+
-
Nafs Sawilah Hanya perasaan yang halus  menguasai dirinya sedang akal dan kemauannya pasif,  ini akan membentuk keperibadian  berhati rapuh, hanyut dalam perasaan, pemalu dan  penakut, suka berangan-angan, mengkhayal. Meereka suka  pada masalah-masalah kesenian dan spiritual.

-
+
+
Nafs Mulhamah, kecerdasan yang berpadu dengan perasaan halus, sedang semangat kurang kuat membuat penampilan orang ini sopan santun, daya khayal tinggi melambung, tampil menjadi peribadi yang dadanya penuh dengan ide ide, banyak gagasan dan pendapat serta rencana rancana tapi kurang berani menyatakan pendapatnya, memerlukan pendamping yang mampu mengarahkan idenya.
           
Delapan macam bentuk Keperibadian ini dapat dirubah melalui Pendidikan ,diklat , penataran, pelatihan
            Sehubungan dengan hal tersebut Allah berfirman dalam surat Ar-Ra’du ayat 11 yang telah dikutip diatas:

.......إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ(1)


....Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka itu merubah sendiri apa (penyebab) yang ada dalam diri mereka sendiri ................(Q.S. 13/Ar-Ra’du: 11).
                Dan Rarulullah sendiri bersabda :
" لا يرد القضاء الا الدعاء ولا يزيد العمر الا البر............" (رواه الترمذي وبن حبان )
“Tidak ada yang mampu menolak ketentuannya ( Qadha ) keculi dengan doa dan tidak ada yang akan menambah umur melainkan perbuatan baik ……………………………. ( H.R Tarmizi dan Ibnu Hibban ).
             Dari kedua dalil diatas dapat difahami bahwa Nasib dan Taqdir manusia dapat dirubah melalui cara merubah apa apa yang kurang didalam dirinya ( daya-akal-pikirnya daya-hatinya atau daya-hawa nafsunya ) Kalau kita uraikan secara panjang lebar tentang keperibadian manusia bahwa Diri Peribadi manusia terdiri dari inti jiwa dan  kulit jiwa. Inti Jiwa manusia berisi Hawa Nafsu dan Hati dengan dua bagian lain yaitu Emosi    ( dari campuran Hawa nafsu dan Hati ), Akal Cipta/Akal Muibtadi          ( dari campuran hawa nafsu dan Akal ), lalu inti ini dibungkus dengan kulitnya yaitu Akal Pikir. Dalam pembentukan keperibadain yang  dominan pengaruhnya adalah Hawa Nafsu, Hati dan Akal pikir.
a. Merubah apa yang didalam diri maksudnya mencari kelemahan diri kemudian berusaha mengubahnya melalui kursus, diklat, pengajian-pembinaan mental, pelatihan.
b.  Hadits diatas menjelaskan bahwa Qadha bisa dirubah dengan do’a maksudnya bukan dengan banyak membaca do’a dan wirid ,  (membaca Al-Quran dimalam jum’at dengan do’a-do’a panjang, membaca do’a agar terbuka pintu rezki, membaca do’a supaya selalu sehat, membaca do’a supaya dijauhkan dari bala dan malapetaka dan bacaan do’a - do’a yang lainnya.. Itu namanya membaca do’a apalagi do’a dibaca dengan hafalan sementara maknanya tidak dimengerti samalah hakikatnya dengan burung beo yang bisa ngomong tapi tak mngerti apa yang diomongkannya. Yang dianjurkan itu bukan membaca do’a tapi  ber-do’a
            Do’a artinya seruan jadi menyeru bukan hanya mengeluarkan suara memanggil Allah agar mau mendengarkan do’a kita lalu Ia kabulkan tanpa ada usaha dan ikhtiar, tapi seruan ( panggilan ) disini makna-kontek seperti kita mau “memanggil dokumen yang ada dalam Hardisk Computer”; Klik sekali Keluarlah  judul dokumen, Klik kedua kali keluar jenis jenis dokumen yang ada dalam  judul itu. Klik ketiga kali keluarlah apa yang kita minta lalu di-copi, jadi , dalam waktu 2 atau 3 detik sudah dapat. Kalau berdo’a untuk merubah Nasib tidak bisa dua, tiga detik tapi kemungkuinan dua atau tiga bulan atau dua tiga tahun. Umpamanya anda mau merubah nasib karena menganggur. Klik pertama Cari dulu  apa sebabnya. Dapat jawabnya “ Sebabnya karena “Tidak terampil”. Klik kedua   “ Keterampilan apa yang anda akan pilih untuk merubah Nasib”?. Dapat Sub-masalahnya  : “ Mau berlatih terampil dalam bidang  Teknik Computer” Klik ketiga kali “ Masuklah Kursus Computer “. Lama belajarnya mungkin 6 bulan kalau kuliah mungkin 3 tahun. Setelah selesai belajar anda sudah terampil, mugkin anda memahirkan dulu cari modal dulu lalu buka usaha apa saja yang memerlukan keterampilan dibidang Komputer. Anda tidak menganggur lagi, nasib anda akan berubah dengan do’a anda yang panjang ( panjang / lama waktunya bukan panjang bacaannya )

b.     Memberdayakan Ekonomi dengan Zakat.

          Zakat itu adalah Ibadah Wajib maksudnya setiap Muslim yang memenuhi sarat wajib zakat maka wajib menunaikannya, jika tidak ia akan berdosa. Menurut makna  Bahasa Zakat itu kasratu’l khoir ( mengandung kebaikan yang banyak ), pertumbuhan perkembangan, albarokah ( penuh berkah ), at-thoharoh ( mensucikan harta ). Menurut Istilah Al-Quran dan Hadits : Shodaqoh Wajib = Zakat. Pengertian Zakat adalah  ” mengelurkan sebagian dari harta ( 2,5 % dari kekayaan ) untuk mendanai orang orang yang berhak menerima ( sebagai Mustahik ):
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ(0)
”Sesungguhnya shodaqoh-wajib ( zakat ) itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” ( QS.9/ At-Taubah : 60  )

            Jenis jenis harta yang menjadi sasaran Zakat adalah Hewan ternak ( al-an’am ), emas dan perak ( zahb wa’l Fidh-dhoh ), Perkebunan yang dapat menjadi sumber kekayaan  (Al-Harst ), Hasil perdagangan, Hasil yang didapat dari jasa profesi            ( Praktek Dokter, Mantri Kesehatan, Guru, Karyawan, Perusahan Teknik ( bengkel, reperasi barang elektronik, hasil kerajinan ). Semua bentuk usaha manusia yang tersebut haruslah ia mengeluarkan zakat bila sudah cukup Nisab kalau belum dianjurkan berinfaq saja. Zakat merupakan sarana-efektif menuju bakti-sosial dengan menjadikannya wahana pemberdayaan ekonomi kerakyatan; bukan sekedar ibadah yang sepi dari kepedulian sosial. yang telah mentradisi dimana Zakat dibagikan segera, secepatnya dalam bentuk konsumtif langsung lalu habis dimanfaatkan bukan dijadikan modal atau aset produktif bagi kelangsungan hidup Fakir Miskin. Sebaiknya Dana Zakat dijadikan modal untuk kegiatan Iqtishodiyah ( perekonomian ) dalam bentuk Perusahaan apa saja yang keuntungnnya untuk membantu para Mustahik shodaqoh, mengubah nasib umat agar terlepas dari kemiskinan. Kalau demikian pengelolaan zakat maka dengan zakat itu nasib umat yang miskin akan berubah.

c.       Menggiatkan  Sedekah, Infaq dan Hadiah

Selain Shodaqoh Wajib ( Zakat )  Islam juga mempunyai ajaran yang sangat menarik dimana umatnya dianjurkan ber-infak dan bershodaqoh ( shodaqoh sunat / sumbangan sosial ) untuk membantu saudaranya yang ekolem ( ekonomi lemah ). Ada teman penulis yang per-tahun uang zakatnya mencapai Rp. !0.000.000, dibagikan kepada Faqir Miskin dengan rata rata per-orang mendapat Rp.300.000. Yang mendapat Zakat itu ternyata ditahun depan miskin lagi lalu mendapat lagi zakat tapi kemiskinannya tetap melekat, tak ada perubahan, miskinnya berkepanjangan. Sepanjang hayatnya simiskin tetap miskin tak pernah merasa betapa nikmatnya kalau memberi sedekah Ada teman penulis yang lain ia berzakat untuk tetangganya ”Penarik beca ”. Katanya kepada ”Abang Beca”. Apakah Beca ini milik bapak ?. Kata Abang Beca : ” Bukan Pak saya menyewa ”. ”Oh ya, kalau begitu maukah bapak saya belikan beca untuk milik bapak tapi uang sewa hariannya bapak kumpul kepada saya, hitung hitung sebagai Infaq bapak. Nanti kalau infaq beca ini terkumpul kita beli lagi becak untuk membantu saudara kita yang lain”. Si Abang beca setuju sekali. Begitulah berbulan bulan Si Abang beca mengumpul infaq hasil becanya sebesar sewa hariannya kemudian hasil tersebut ditambahi teman penulis dan dapatlah satu beca lagi begitu seterusnya yang ketika tulisan ini diturunkan sudah ada empat  beca yang dibeli teman penulis itu. Si Abang beca yang dulu miskin dengan pekerjaan menarik beca-sewaan sekarang tidak miskin lagi tidak membutuhkan shodaqoh lagi malah ia sudah tetap berinfak untuk membantu saudara sesama tukang beca. Apa yang dilakukan teman penulis itu baik untuk ditiru dalam bentuk lain melalui infak / sedekah anda untuk merubah nasib saudara Muslim yang Ekolem.

d.            Memberdayakan Arisan dan Asuransi ( Takaful)

Arisan adalah salah satu cara mmbantu kaum ekolem ( ekonomi lemah.). Arisan itu adalah mengumpulkan uang  secara berkala, semiggu sekali atau sebulan sekali sesuai dengan kesepakatan  bersama. Yang setelah adanya pertemuan anggota diadakan undian untuk siapa hasil tarikan uang yang dikumpulkan itu. Dalam hal ini Arisan merupakan media finensial untuk membantu mendapatkan uang lebih dari biasanya walaupun sebenarnya ia menyetor terus uang cicilannya setiap bulan.Yang mendapat undian menarik uang tentu merasa sangat tertolong untuk merubah nasibnya. Dengan uang itu ia dapat membeli perabotan dapur yang sama seperti yang dimiliki orang kaya. Dengan ikut arisan banyak pembantu rumah tangga yang punya HP., ibu ibu ekolem punya kompor gas.
Disamping Arisan ada lagi yang lebih bergengsi dari Arisan disebut Asuransi. Asuransi itu bentuknya adalah iyuran bulanan yang dikumpulkan oleh Suatau Badan / Perusahaan Asuransi untuk membantu orang-orang yang ekolem dan ekopan                ( ekonomi mapan ). Asuransi bertujuan untuk meringankan beban peserta asuransi yang sekarang ini ada Asuransi Islam bernama Takaful.( istilah Takaful berasal darai kata  كفـل  yang bermakna “mencukupi nafkah serta memeliharanya“. التكا فـل   artinya ” pertanggungan yang berbalasan”. Asuransi yang kita kenal sekarang ini menurut fatwa Ulama hukumnya haram karena mirip dengan berjudi. Itu kata sebagian ulama tidak semua ulama mengatakan: ”haram”. Dimana  faktanya maka dikatakan mirip dengan judi ? Padahal peserta asuransi membayar setiap bulannya yang dalam tempo tertentu ( menurut Aturan Asuransi ) uangnya bisa diambil kembali kalau cukup waktu sementara itu kalau peserta sakit biaya pengobatannya ditanggung pihak Perusahaan Asuransi, kalau meninggal dunia uangnya dikembalikan penuh seperti cukup masanya. Ada jenis Asuransi lain yang disebut Asuransi  Bea Siswa sebagai jaminan uang pendidikan anak dimasa depan. Bagaimanapun model Asuransi itu tidak merugikan Pesera Asuransi. Kalaupun ada yang terjadi peserta dirugikan itu bukan tipu daya Perusahaan Asuransi tapi ada oknum yang bekerja di Asuransi itu yang tidak jujur memanfaatkan kebodohan peserta dan mencoba menipu . Makanya perlu ada Asuransi Islam yang dikelola orang orang yang beriman, sehingga Asuransi berfungsi sebagai pengubah Nasib &Takdir. Begitupun  Perusahaan Asuransi itu harus berbadan hukum yang sewaktu waktu terjadi penyimpangan dapat dituntut di Pengadilan.

e.      Membangun  Kooperasi

Membangun Kooperasi dalam sebuah kelompok Muslim sangat membantu perekonomian kaum muslimin umumnya. Kooperasi itu adalah upaya mengumpulkan saham dari masyarakat yang kemudian dijadikn Modal Usaha bersama dimana usaha itu adalah usaha masyarakat untuk kepentingan masyarakat yang keuntungan Perusahaan itu dibagi untuk angota Kooperasi berdasar besar saham yang ditanamnya dalam Koperasi itu. Koperasi itu dapat berwujud dalam bentuk Supermarket, Swalayan atau Baitu’l Mal, Simpan Pinjam. Pemimpin perusahaan Kooperasi haruslah yang mengerti Ilmu Ekonomi/ sarjana Ekonomi yang takut menipu dan takut Korupsi. Hasil keuntungan dihitung pertahun atau persemester sesuai dengan Anggaran dasar ( AD ) dan Anggaran Rumah Tangga ( ART ) Kooperasi tersebut. Dasar Kooperasi dalam Al-Qur’an adalah firman Allah :
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ(1)
”Perumpamaan orang yang membelanjakan hartanya ( menafkahkan hartanya )  di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai berbuah  seratus buah. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” ( QS. 2/ Al-Baqarah :261 ).
Ayat diatas menjelaskan bahwa perumpamaan orang yang membelanjakan hartanya untuk memberi modal-usaha dijalan Allah adalah ia bagai menanam sebutir biji-benih itulah saham yang akan menumbuhkan tujuh tangkai ( tujuh jalan keuntungan ) yang  pada tiap-tiap jalan usaha itu akan menghasilkan  hasil seratus butir artinya satu usaha yang memberi keuntungan yang banyak. Demikianlah Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki yaitu yang gigih dan ulet berusaha merubah nasib.

f.       Gigigh  dan Kerja-keras

وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ(77)
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”             ( QS.28/Al-Qashash :77 ).
             Ayat diatas menganjurkan kepada umat Islam supaya  bekerja keras untuk mendapatkan hidup yang layak
 Barangsiapa yang tidak mau bekerja keras, hanya suka bermalas malasan pasti ia akan jadi peminta minta, walaupun caranya bergengsi Barangsiapa yang tak mau bekerja keras tapi ingin kaya pastilah ia menjadi rakus terhadap harta yang bukan miliknya dan menjadikan Agama sebagai media mendapatkan harta. Barangsiapa yang hanya memilih milih kerja karena gengsi pastilah ia suka korupsi atau mencuri.  Nabi bersabda :
كاد الفقر ان يكون كفرا
Hampir saja ke-Faqiran membuat kekafiran ( H.R. Abu Na’im dari Anas )

Kemiskinan membuat orang selalu menyesali diri kadang kadang menyesali Allah maka orang miskin banyak yang malas sholat kalaupun ia sholat tidak menjaga waktu padahal dalam hidupnya suka menyia-nyiakan waktu.  Pada umumnya anak bangsa  rata rata kurang gigih berusaha karena sudah menjdi taradisi setiap anak yang tamat dari pendidikan mereka mencari kerja. Kebnyakan orangtua banyak yang memanjakan anak dengan tidak sadar merusak sikap hidup anak dengan mencarikan kerja untuk anak dengan cara menjual harta buat menyogok agar anaknya dapat pekerjaan. Dari awal anak sudah terbiasa hidup dengan cara mudah. Malah kebanyakan orangtua yang menjual harta untuk pekerjaan anak setelah anak sukses malah tidak mengganti harta orangtuanya yang habis. Jarang orangtua mau menjual harta untuk pendidikan dan keterampilan anaknya. Islam mengajarkan umatnya untuk gigih berusaha dan menjauhi pekerjaan meminta-minta karena Rasulullah bersabda :
ما يزال الرجل يسأل الناس حتى يأتى يوم القيامة ليس فى وجهه مزعة لحم
“Tidaklah berlalu di hari qiymat seseorang yang  hanya meminta minta kepada manusia melainkan ia datang  dengan muka yang tak berdaging”  ( Hadis dari Abdullah bin Umar ).

                        Kemandirian ekonomi sangat penting untuk menjadikan Islam ini tegak dengan tegar. Sangat disayangkan kalau ahli agama atau pemuka agama yang tidak kuat Iman sering tergoda oleh kepentingan materi sehingga berani membuat peraturan untuk keuntungan sendiri walaupun tidak merugikan orang tapi memperalat Agama. Umpamanya Calon Haji menyetorkan uangnya di Bank dengan peraturan uang setoran haji tidak berbunga. Tapi kenyataan kalau calon haji mendaftar sekarang 4 atau 5 tahun lagi baru berangkat sementara uang setoran yang di bank itu masuk ke rekening Menteri Agama yang sudah pasti berbunga. Selama empat tahun berapa banyak yang diraut dari simpanan jamaah haji?

g.            Melaksanakan Amar Ma’ruf / Nahi Mungkar

            Melaksanakan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar adalah tugas setiap pribadi Muslim, karena tugas ini merupakan kewajiban mendasar bagi umat Islam dan Nabi Muhammad bangkit ditengah tengah Masyarakat yang Zhulumat beliau diperintah Allah melaksanakan Amar Ma’ruuf & Nahi Mungkar menggiring Masyarakat zhulumat itu kedalam masyarakat yang berbudi luhur menjadi masyarakat Nur yang munawwarah.
هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ(9)
“ Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al Qur'an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu” ( QS.57/ Al-Hadid : 9 ).
عن ابى سعيد الخدرى ر.ض. قال : سمعت رسول الله صلعم يقول :من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه، و ذلك اضعف الايمان ( رواه مسلم ) 
“Barang siapa diantara kamu melihat kemungkaran hendaklah diubahnya dengan tangannya , kalau tidak sanggup ubahlah dengan lisan , kalau tidak sanggup juga ubahlah dengan hati dan ini adalah selemah-lemah Iman ” (Hadits Riwayat Muslim   )

h.           Melakukan Hijrah
Hijrah Nabi

             Ketika rumah Nabi dikepung orang kafir karena mereka mendengar berita Nabi Muhammad akan ber-Hijrah maka  Nabi menyuruh Ali Bin Abi Thalib ( 20 th ) tidur ditempat tidurnya dengan memakai selimut yang biasa dipakai Nabi lalu Nabi bersama Abu Bakar keluar dari jendela dan bersembunyi di Gua Tsur selama 3 hari 3 malam
             Setelah hari ke 4 situasi sudah agak tenang Nabi bersama Abu Bakar keluar dari persembunyiannya. Setelah hari ketiga beliau berangkat menuju desa Yatsrib lewat jalan yang tak pernah dilalui orang kalau mau ke Yatsrib
            Setelah 10 hari dalam perjalanan berkendaraan unta sampailah Nabi di Quba tanggal 7 Rabiul Awal. Di Quba Nabi menginap selama 4 hari dan sempat membangun Masjid yang diberi nama Masjid Quba. Selama empat belas ( 14 )  hari itu Ali Bin Abi Thalib-pun smpai ke Quba  tanggal 11 Rabiul Awal tahun 1 H. dengan berjalan kaki dari Makkah.
            Hari ke 15 ( tanggal 12 Rabiul Awal ) Nabi Muhammad dengan Abu Bakar dan Ali Bin Abi Thalib sampai di Madinah. Nabi menunggang unta Qoshawa-nya dan Unta itu berhenti ditempat penjemuran korma milik Sahal dan Suhil ( dua abang adik yang telah yatim piatu )
            Tanah lapang itu dibeli Nabi dengan harga yang pantas lalu dibangunlah Masjid dan Rumah Nabi mengemper di dinding bagian sebelah Timur Masjid. Masjid Nabawi dan rumah Nabi Muhammad dibangun dengan gotong royong selama empat hari Mesjid itu berukuran 30 X 30 M + Shuffah 5 M untuk tempat menginap para sahabat yang tak punya kerabat di Madinah sehingga panjang  Mesjid menjadi  35 M . Rumah Nabi  mengemper disisi Masjid sebelah Timur  : dengan 10 kamar yang berukuran masing masing 35 X 5 M ditempati oleh 9 Ummu’l Mukminin  dan satu ruangan untuk putri Nabi Fathimah Zahrah.  Sekarang Masjid Nabawi luasnya sudah mencapai 89170 M2 = 9 HA dengan panjangnya  Timur - Barat : 390 M dan lebarnya Utara-Selatan,  : 203 M, berlantai dua dengan Qiblat arah ke Selatan ( karena Makkah ) disebelah Selatan Madinah; ditambah dengan luas halaman 235.000 M2. Jadi luas Areal Masjid sekitar 32 HA yang dapat menampung lebih 1.000.000 jamaah
           Sesudah itu menyusul Sahabat ikut Hijrah sebanyak 40 orang. Di Yatsrib Nabi Muhmmad menjadikan desa itu tempat pembangunan Masyarakat Islam  dimana Al-Qur’an dibumikan maka berubahlah Nasib umat Islam dari hidup bercampur baur dengan masyarakat Jahiliyah yang Dzulumt jadi berubah menjadi masyarakat Nur yang Munawwarah
Hijrahnya Umat
            Kita umat Islam sekarang belum ada yang tertarik mengamalkan Hijrah seperti Hijrah nabi, hanya baru sekadar wacana, mebicarakan tentang Hijrah Nabi tapi enggan mengamalkan sunnah Nabi untuk berhijrah.  Belum ada terdengar ada  kelompok kaum  Muslimin yang berhijrah mencari lahan baru lalu membangun komunitas-Muslim disana untuk mengamalkan Sunnah Nabi dan membangun Madinatu’l- Munawwarah dinegerinya sendiri
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ(1)
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang aman tenteram, rezkinya datang berlimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat”  ( QS.16/ An- Nahl :112 )

          Kutipan surat An-Nahlu ayat 112 yang tertera diatas mengandung informasi bahwa Allah menyodorkan kepada kita perumpamaan sebuah negeri makmur yang nikmat Allah disana berlimpah-ruah datang dari semua penjuru, tapi umatnya “Kufur Ni’mat” mungkin itulah negeri kita Indonesia.
     .   Pada masa Al-Qur’an diterima Nabi Muhammad, diberitakan dalam Al-Quran bahwa ada negeri subur yang paling makmur di kawasan Yaman dimasa Kerajaan Saba’ yang diperintah Ratu Balqis menguasainya.
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ(1) 
        “Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun".( QS. 34/Saba’: 15 )
 
          Negeri Saba’ ini kemudian dikuasai Sulaiman  karena Ratu Balqis menjadi Permaisurinya, maka jadilah negeri itu menjadi negeri makmur  aman sentosa  yang rakyat hidup dalam ridho Allah karena pemimpin Negerinya mau berpedoman kepada ajaran Allah. Kalau Indonesia yang subur ini Pemimpinnya mau berpedoman kepada Ajaran Allah pastilah makmur dan tidak akan ada seorangpun lagi yang miskin. Kalau Negara tidak mau berpedoman kepada Sunnah kenapa warga sunnah sendiri tidak mau membangun perkampungan ( Daaru’s Sunnah )  untuk membumikan Al-Qur’an. Selagi masyarakat penghuni Daaru’s Sunnah patuh kepada Program Pemerintah yang bersifat Negara-Nasional itu, masyarakat Sunnah  tentu aman tenteram hidup tidak terganggu keamanannya karena UUD-45 menjamin rakyatnya dalam menjalankan keyakinan dan kepercayaan menurut agamanya masing masing. Kalau perkampungan sunnah terwujud dan Al-Qur’an dibumikan pasti masyarakat penghuni Daaru’s Sunnah itu akan hidup tenteram ( ada jaminan Allah dan jaminan Negara) seperti kehidupan umat Islam dimasa Rasulullah. Nasib umat tidak akan terpuruk, tidak ada anggota masyarakat yang miskin lagi, karena para Aghniya’ ( orang kaya ) hanya boleh memiliki kekayaannya sendiri 97,5 % saja dan yang 2,5 %-nya adalah milik faqir miskin.

i.         Berjihad dan berda’wah
            Setelah  dua tahun Nabi Muhammad membangun Daulat  Islamiyah di Madinah umat Islam sudah berjumlah sekitar 700 orang lebih. Ketika terjadi perang Badar Mujahidin yang ikut berjuang sebanyak 300 orang lebih dan peperangan itu dimenangkan umat Islam padahal orang Kafir Makkah datang dengan kekuatan 1000 prajurit yang lengkap persenjataannya. Kog bisa begitu ? Waktu itu semangat Jihad Umat Islam berpadu dengan semangat Da’wah  penuh dengan kekuatan spiritual sepuluh kali lipat dan itu merupakan jaminan Allah sebagaimana yang difirmankan-Nya
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ(65)
“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu'min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti” ( QS.8/Al-Anfal : 65 )

Pada perang Uhud Mujahidin yang berangkat ke medan perang sebanyak 1000 orang tapi yang benar benar bertekad syahid hanya sebanyak 700 orang sisanya Muslim yang imannya goyah dihasut Abdullah Bin Ubay (Yahudi Munafik ) mereka takut mati karena mendengar tantara Kafir dari Makkah sebanyak 3000 orang. Peperangan tidak dapat mengalahkan orang Kafir yang berjumlah 3000 orang itu karena prajurit ( Mujahidin ) dirasuki keserakahan harta rampasan perang namun demikian umat Islam juga tidak terkalahkan.
 Setelah 8 tahun Nabi berada di Madinah umat Islam sudah lebih dari 20.000 orang. Dengan kekuatan 10.000 Mujahidin berangkatlah Nabi ke Makkah untuk membebaskan Makkah dari cengkeraman kaum Musyrikin Jahiliah. Kekuatan prajurit Makkah waktu itu  antara 4000- 5000 orang. Mendengar kaum Muslimin yang dipimpin Nabi Muhammad datang sebanyak 10.000 orang penduduk Makkah-pun ketakutan, Abu Sofyan pemimpin suku Quraisy Makkah yang selama 20 tahun memburu Nabi Muhammad akhirnya bertekuk lutut dan masuk Islam secara terpaksa, Makkahpun ditaklukkan dan Ka’bah dibersihkan dari berhala-berhala. Inilah bukti bahwa jumlah umat yang bersemangat jihad dapat menjadi modal perjuangan Islam yang merobah takdir Islam dan merobah nasib umat Islam.  Sekarang   ini umat Islam didunia mencapai 1,9 miliar tapi tak berani melawan Yahudi yang negaranya hanya secuil dan penduduknya hanya 5.000.000 jiwa. Kenapa demikian ? Karena umat yang banyak itu hanya seperti buih laut,  jumlah saja yang banyak, hanya kwantitas tak berkwalitas kebanyakan orang bodoh, miskin, lemah , dan takut mati, sudah tertular penyakit WAHAN.:
يوشك ان تداعى عليكم الامم كما تدعى الأكلة إلى قصعتها فقال قائل : أمن  قلة نحن يومئذ ؟ قال : لا بل انتم يومئذ كثير , ولكنكم غشاء كغشاء السيل  وسينزع الله من صدور عدوكم المهابة منكم, ولقذفن فى قلوبكم الوهن, قال  قائل : يا رسول الله وما الوهن ؟  قال حب الدنيا وكرهية الموت.
“ Kamu sudah semakin dekat pada suatu masa dimana kamu akan dikerubungi orang orang ( kafir ) seperti mengerubungi hidangan makanan. Maka bertanyalah salah seorang sahabat : “ Apakah kami ketika itu hanya sedikit? “ Jawab Nabi : “ Tidak, bahkan kamu ketika itu sangat banyak akan tetapi seperti buih laut yang hanyut dan dicabut Allah rasa gentar dari dalam dada musuh musuh kamu terhadap kamu, dan masuklah kedalamnya penyakit “ Wahan “. “ Ya Rasulullah apakah wahan itu ? Jawab Nabi “ Cinta dunia dan benci akan kematian “ ( Hadits Shahih, Riwayat Abu Daud dan Baihaqy )
          Khalifah Umar Bin Khattab menaklukkan tanah Yudea ( Israil ) pada tahun 639 M, beliau tak sempat mengislamkan penduduk Yudea. Ketika itu Jihad hanya baru tahap awal sekedar mengalahkan Bangsa Israil belum mengislamkan penduduk Israil, sekedar mengubah nama Israil menjadi Palestina. Kemudian beliaupun wafat, penggantinya Utsman Bin Affan masih tetap sebagai Penguasa di Palestina tidak menegakkan unsur Da’wah mengislamkan orang-orang orang Yahudi. Setelah Utsman, yang berdaulat adalah Bani Umaiyah, khalifah pertamanya adalah Mu’awiyah bin Abi Sofyan ( Abu Sofyan selama 20 tahun memburu Nabi yang akhirnya menyerah dengan terpaksa masuk Islam karena takut kepalanya dipenggal ) meneruskan Jihad Islam tapi tidak dengan semangat da’wah hanya jihad yang berbungkus hasrat berkuasa dan menguasai. Ketika putra beliau Yazid Bin Mu’awiyah jadi Khalifah keadaan lebih parah lagi bukan hanya ingin menguasai negeri Yahudi itu malah keturunan Nabi Muhammad-pun dimusnahkannya supaya tidak ada penghambat keinginan hawa-nafsunya untuk menjadi raja-diraja diseluruh Timur Tengah, maka Hasan dan Husin   ( cucu kesayangan Nabi Muhammad )pun dibunuh.
              Penguasa Islam masa lampau  punya alasan kuat untuk menjajah tanah orang
kafir dengan menyodorkan Frman Allah :
وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا(89)
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong” ( QS.4/An-Nisaa’ : 89 ).

            Padahal ayat diatas hanya untuk mereka ( orang kafir ) yang keras kepala yang memerangi Islam, kalau mereka sudah kalah, tidak ada niat mau memerangi maka hukum tawan dan bunuh itu tidak berlaku lagi,  ayat berikutnya menjelaskan:
إِلَّا الَّذِينَ يَصِلُونَ إِلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ أَوْ جَاءُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَنْ يُقَاتِلُوكُمْ أَوْ يُقَاتِلُوا قَوْمَهُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَاتَلُوكُمْ فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلًا(90)
” Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka”                ( QS.2/Al-Baqarah : 90 )

            Pernah Palestina mengalami masa jayanya dimasa Khalifah Abdu’l Malik, ketika itu Masjid Al-Aqsho dibangun pada tahun 686 s/d 690. Orang Yahudi mengungsi keluar Palestina , ke Eropa, belakangan  ke Amerika. Di Amerika mereka dapat menyatu dengan orang orang yang menempati tanah benua Amerika itu lalu orang orang Yahudi itu menjadi orang Amerika. Orang orang Yahudi dengan pengalaman pahit dijajah oleh Penguasa Islam, lalu menata diri, mereka jadi orang pintar, jadi orang kaya, jadi orang berkuasa di Amerika . Kini mereka telah kuat dalam segala bidang, kuat keuangan kuat kecerdasan, kuat kedudukan, maka mereka kembali mengambil tanah airnya dan mengusir orang Islam yang menempati tanahnya. Orang Palestina tidak merasa bahwa Palestina itu tanah Yahudi  karena sudah beratus ratus tahun mereka tinggal disitu, mereka menganggap bahwa tanah Palestina itu adalah milik orang Arab Palestina, mereka bertahan sampai hancur dan ternyata mereka hancur mempertahankan tanah yang bukan haknya. Kita yang tak mengerti sejarah lalu mengutuk Yahudi laknatu’llah, memang Yahudi manusia terkutuk dibumi ( menurut umat Islam ) tapi Allah berkata lain :
يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ(4)
“ Hai Bani Israil, ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat  di alam kehidupan ini (  QS.2/Al-Baqarah :47)
           Allah mengatakan Yahudi itu bangsa besar kelak menjadi bangsa yang kuat karena itu umat Islam harus berhati-hati, maka jauh sebelum mereka membangun kekuatan  Allah mengingatkan :
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ(1)
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” ( Q.S 2/ Al-Baqarah : 120 )

            Masih zaman dinasti Bani Umaiyah, pernah berkuasa di Sepanyol selama 730 tahun, selama itu Islam hanya berkuasa tapi tidak mengislamkan orang Sepanyol.  Arab-Islam dipandang sebagai penjajah di negeri itu. Bagaimanapun hasil gemilang yang dicapai oleh Peradaban Islam seperti adanya Masjid Al-Hambra di Cordoba,        ( Madinatu”z Zahara ), malah orang orang pintar di Eropa mengatakan bahwa dimasa Islam “sorga pernah hadir di Andalusia”, namun orang-Islam tetap dianggap penjajah yang harus disingkirkan dari bumi Sepanyol. Setelah Sepanyol kuat umat Islampun diusir dan bersebarlah Arab Andalus itu di Eropa sebagai pedagang. Jadi Jihad dan Da’wah para Khalifah masa lampau  bukan memperbaiki nasib umat Islam malah menelantarkan umat Islam sepeninggalnya
           Lain halnya dengan pengikut Ali-Bin Abi Thalib yang disebut kaum Syi’ah, mereka mengalahkan dan menguasai Persia dan mengislamkan negeri itu maka Iran sekarang menjadi Republik  Islam yang kuat dan tidak ada Negeri Islam didunia yang berani memproklmirkan sebagi Republik Islam melainkan Republik Islam Iran, maka negeri ini disegani oleh musuh musuh Islam namun umat Islam tidak sadar kekuatan Kafir yang sanggup memecah belah umat Islam sehingga sekarang Iran retak dari dalam dimana kaum Sunny sangat membenci kaum Syi’i. Terbukti dengan Jihad dan Da’wah di Persia yang beragama Majusi  takdirnya berubah menjadi  Islam malah kini menjadi Republik Islam
            Begitu pula Bani Abbasiyah yang memegang teguh perinsip Da’wah dan jihad, ketika Harun Al-Rasyid mengirim Misi Da’wah ke Aceh orang Aceh-pun masuk Islam sementara orang Arab yang mengislamkan itu tidak mau jadi raja di Aceh, dan umat Islam tetap menghormati orang Arab.
            Kini umat Islam di Indonesia lebih kurang 200 juta orang tapi umat Islam bagaikan golongan Minoritas karena banyak yang tidak mengenal Islam dan tidak mencintai Islam hanya “Islam KTP”, hanya sedikit yang mengerti Islam, itupun terpecah belah tak mau hidup rukun tak mau bersatu menyusun kekuatan. Kenapa demikian ? Karena umat Islam Indonesia telah kehilangan semangat Jihad. Kehilangan semangat jihad sama artinya kehilangan kekuatan untuk merubah taqdir dan nasib umat Islam. ( amat disayangkan sebagian kecil umat Islam memahamkan jihad itu dengan arti : ”berjuang untuk memerangi orang kafir atau mau menegakkan negara sendiri” ini adalah pemahaman yang menyimpang.

j.        Menumbuhkan Sifat suka menolong / menggiatkan
      Ta’awwun ( tolong menolong )
Leluhur kita sejak zaman dahulu sudah mengenal sifat tolong menolong yang dalam Islam disebut ta’awwun. Sampai sekarang di didesa-desa masih berlaku kegiatan gotong royong misalnya bila mau membangun rumah dikerjakan secara gotong royomg. Memperbaiki jembatan dikerjakan dengan gotong royong. Penulis masih sempat mengalami ketika membuat rumah di Tembung Deli Serdang tahun 1980 rumah penulis digotong royongkan oleh Jamaah Pengajian dari Karangrejo Polonia. Alangkah indahnya  kalau sifat tolong menolong atau gotong royong ini dilestarikan sampai sekarang oleh umat Islam. Memang kalau membangun rumah secara gotong royong itu kan rumah yang semi permanen, kalau rumah yang permanen berdasarkan gambar bangunan mestilah dikerjakan oleh ahlinya supaya hasilnya bagus, namun tenaga kerja, bahan bahan material bangunan bisa digotong royongkan. Misalnya ada saudara sepengajian yang mau membuat rumah alangkah indahnya kalau saudara sepengajian lain  ikut membantu pengadaan barang. Ada yang menyumbang Semen semampunya, pasir semanpunya, Keramik semampunya, menyumbang untuk makan minum pekerja, tidak mampu membantu berupa barang material ia bisa membantu tenaga untuk bekerja sebagai kernet: membawakan semen, menggali parit, merakit besi dan lain lain pekerjaan yang mungkin bisa dikerjakan sehingga biaya pembuatan rumah bisa cepat rampung dan irit biayanya..Allah berfirman :

.........وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ.....ِ(2)
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran………….( QS.5/Al-Maidah :2 )





Tidak ada komentar:

Posting Komentar