Selasa, 15 November 2011

MENGUAK TAKDIR 3

          

BEBERAPA ISTILAH YANG BERKAITAN  

DENGAN  TAQDIR



1. Tentang Pengertian:
Qadha, Qadar, Taqdir, Fitrah, Qodrat dan Nasib

             Sebenarnya tidak ada kesulitan bagi kita untuk memahami tentang Qadha, Qadar, Qodrat, Taqdir atau Nasib, karena semua penjelasan ini ada dalam Al-Quran atau Hadits. Akan tetapi karena kurangnya disiplin ilmu yang dimiliki maka terjemahan istilah tersebut menjadi bergeser lalu   pengamalannya jadi menyimpang.

a.       Pengertian Qadha
            Arti qadha menurut bahasa : keputusan, putusan (hukum), pembayaran (hutang) dll.
            Dalam konteks penciptaan alam semesta antara lain Allah berfirman
بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ(1)
             “( Allah ) membuat tujuh petala langit dan bumi dan apabila Ia memutuskan (untuk menciptakan) sesuatu maka ia berfirman”  Kun (jadilah), Fayakun (maka menjadilah secara evaluasi)” (Q.S. Al-Baqarah / 2 : 117)

             Arti qadha menurut istilah ialah “keputusan Allah dalam memberlakukan hukum di dalam alam semesta ini” . Qadha Allah itu ada dilangit, ada di bumi juga ada di dalam diri manusia dan ada dalam alam kehidupan  Qadha Allah selalu disebut  “Sunnatullah”, sedangkan Qadha Allah di dalam diri manusia  merupakan hukum-hukum bersifat Psikologis dan Biologis, yang bekerja secara otomatis. Diantara perwujudan hukum itu adalah jenis kelamin, bentuk badan, watak/karakter dll.

b.      Pengertian Qadar

                         Arti kata Qadar menurut bahasa : ukuran ketentuan. Kata Qadar dalam konteks penciptaan alam Allah berfirman :
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ(49)

             Sesungguhnya segala sesuatu Kami jadikan dengan qadar (ukuran tertentu)” (Q.S.54/.Al Qamar : 49).

                         Dari penjelasan ayat Al-Quran diatas dapat difahami bahwa qadar itu merupakan ukuran-ukuran untuk menentukan bentuk/pola sesuatu makhluk atau alam yang diciptakan Allah. Dengan adanya Qadar maka alam semesta ini terjadi dari persenyawaan ratusan jenis atom lalu menjadi gumpalan Gas kemudian menjdi tak terhitung banyaknya Matahari dan Galaksi didalam jagat Sebuah matahari memiliki satelit (bumi/planet) yang banyak. Bumi merupakan padatan zat padat dan zat cair. Kalau di bagi lagi dalam bahagian kecil, sebenarnya bumi merupakan padatan atom. Tiap-tiap atom memiliki ukuran tertentu. Atom Hidrogen memiliki : 1 proton, 1 elektron. Atom Helium memiliki : 2 proton, 2 eloktron dan 2 neutron. Atom Litihium memiliki: 3 proton, 3 elektron dan 3 neutron. Atom Karbon memiliki:  6 proton, 6 elektron dan 6 neutron.
                      Seterusnya qadar protan, elektron, neutron selalu berukuran sama sehingga mencapai bilangannya 20. Akan tetapi atom yang nomor protonnya 21, ukuran neutronnya tidak sama lagi,  seperti : Besi, protonnya sebanyak 26, elektronnya 26 akan tetapi neutronnya sebanyak 30. Uranium protonnya sebanyak 92, elektronnya 92 dan neutronnya sebanyak 146. Diduga banyaknya atom didalam alam ini ada 112 macam dengan kadar ( ukuran ) yang bermacam-macam.
                      Dari atom-atom inilah zat mewujud (seperti zat air adalah merupakan ikatan atom hidrogen dan oksigen). Berapa banyak macam-macam zat didalam alam ini ? Sungguh tak terhitung, semua itu dijadikan Allah dengan ukuran-ukuran tertentu,  sebagai mana yang telah di firmankan-Nya dalam surat Al-Qamar ayat 49 yang telah dikutip terdahulu. Belum lagi kita kaji zat-zat yang ada dalam diri makhluk hidup ( tumbuhan, hewan dan manusia ).

             c.     Pengertian Taqdir
Takdir berasal dari pangkal kata qaddara, yuqoddiru.
 At-taqdiru adalah bentuk masdar dari qaddara.         (  التقدير= مصدر قدر    )   yang bermakna Ganda : Dugaan, perkiraan, hipotesis, perkembangan, pandangan, kebijaksanaan (Qamus Al- Munawwir halaman 1178).
Dalam konteks penciptaan alam semesta Allah berfirman :

فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ.

“Dia menyingsingkan pagi dan  menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Mengetahui”. (Q.S.6/Al-An’aam :96)
                      Pada ayat diatas, kata taqdir diartikan “ ketentuan”. Sebenarnya arti yang lebih mengena itu adalah seperti arti yang di dalam Qamus Al-Munawwir diatas yaitu: dugaan, perkiraan hipotesis atau pertimbangan. Seperti terasa ada pergeseran  makna, yang sebenarnya makna taqdir baik secara teks atau konteks tidak ada perbedaan pengertian yang jauh. Qadar yang mengisi setiap diri makhluk adalah bersifat konstan akan tetapi setelah qadar itu berproses kedalam qadha akan terjadi suatu kemungkinan. Kemungkinan yang akan terjadi itu yang disebut dengan taqdir. Misalnya pohon kelapa yang tumbuh membawa sifat bawaannya (fitrah): batangnya tinggi tidak bercabang, daunnya terurai, berpelepah-pipih-panjang dan berlidi. Buahnya diluar bersabut didalam bertempurung. Dengan adanya sabut itu bila buah kelapa jatuh ke air akan timbul terapung, dan kalau terdampar di pulau buah kelapa itu akan tumbuh disitu. Kelapa senang dengan hawa pantai dan lahan yang mengandung garam, tapi air kelapa tidak asin malah manis dengan isi yang lemak. Melihat dari sifat kelapa ini dapatlah kita menduga bahwa “kelapa adalah tanaman pantai”.
             Kesimpulan yang menyatakan bahwa pohom kelapa merupakan tanaman pantai  adalah sebuah Hipotetis, dan ini merupakan ketetapan taqdir. Tetapi kenyataan yang kita lihat bahwa di daerah pegunungan juga ada tumbuh pohon kelapa. Pohon kelapa yang tumbuh di pegunungan bukan karena ada beberapa buah kelapa yang mampu menggelinding mendaki gunung akan tetapi ada kekuatan lain (qodrat yang lebih tinggi) yaitu “ manusia” yang membawa bibit kelapa itu kepegunungan.
             Dengan demikian ada kelapa yang ditaqdirkan bernasib baik karena  tumbuh pada tempat yang sesuai pada fitrahnya ada juga kelapa yang ditakdirkan nasibnya kurang baik karena ditanam ditempat yang tidak sesuai fitrahnya.

      d.   Pengertian Qodrat dan Iradat 

             Qodrat  القدرة  artinya kemampuan, kekuatan, yaitu besarnya daya yang tersimpan didalam diri, benda atau makhluk hidup. Al-Irodatu  الارادة =  المشيئة bermakna kehendak, kemauan, adalah daya dorong yang terkandung didalam benda atau diri makhluk hidup.
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ(2)
            Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.

            Kata Aroda pada ayat diatas bermakna kehendak, menghendaki

             Qudrat yang ada dalam diri makhluk itu besarnya tidak sama. Seperti keadaannya listrik yang kita gunakan sehari-hari, ada yang kekuatannya 110 volt ada yang 220 volt. Akibat perbedaan volt ini bisa berpengaruh pada bola listrik yang sama wattnya tetapi tidak sama terangnya. Didalam alam semesta ini semua makhluk hidup memiliki qodrat dengan ukuran masing-masing yang tidak sama kekuatannya sehingga  yang memiliki qodrat yang kecil, takdirnya akan dapat dirubah oleh makhluk yang lebih besar kodratnya. Iradat adalah energi gerak pendorong qadar agar berproses menuju tujuan akhir berupa suatu kejadian. Bentuk itulah yang disebut dengan takdir. Proses kadar menjadi sebuah takdir dapat berwujud baik atau buruk, kalau manuasia yang arif mampu melihat kebelakang dengan ilmunya, lalu berusaha menggandakan qodrat itu maka takdir itu akan berubah. Bagi keadaan makhluk yang dibawah kodrat manusia, misalnya benda-benda yang mampu dikuasai manusia takdirnya dapat dirubah. Misalnya pada atom atau molekul yang tetap, dapat dibuat persenyawaan lain sehingga tercipta benda-benda baru hasil percobaan manusia. Sebuah molekul adalah senyawa atom-atom. Molekul air misalnya adalah pesenyawaan antara dua butir atom hidrogen dengan sebutir oksigen, kalau kita tulis dengan simbol kimia : H2O.
             Orang dapat membuat Alkohol (C2H5OH) dari bahan ketan (pulut) atau ubi kayu yang dijadikan tape terlebih dahulu, dengan demikian takdir ketan atau ubi itu dapat berubah menjadi lebih berharga karena telah menjadi alkohol dimana alkohol bukan hanya menjadi makanan tetapi dapat menjadi bahan obat-obatan dan juga menjadi bahan minuman yang memabukkan. Hal ini di sebabkan karena qodrat manusia lebih besar dan sanggup merubah kadar dan qodrat yang ada pada benda atau makhluk yang derajatnya di bawah manusia.
             Manusia dapat menguasai kadar yang mengisi alam yang lebih rendah dari qodrat manusia, karena itulah manusia dapat merubah alam, dapat menciptakan bentuk baru, seperti Ibrahim yang tahan dibakar, Musa dengan tongkatnya sanggup membelah laut, pemuda yang tidur selama 360 tahun tidak mati dan lain-lain kelebihan diberikan Tuhan kepada manusia. Dengan Doa’pun manusia dapat mengelak dari hukum qadha, jika Allah memberikan tambahan qodrat dan menerima Do’a yang bukan hanya tersusun dari teks indah dan bunyinya bersajak, tapi do’a yang dapat menimbulkan getaran gelombang Bio-elektrisitet, yang mampu menyatu dengan Nur llahi, sebagaimana bunyi Hadits yang telah dikutip diatas :
            قال  رسول الله صلعم : لا يرد القضاء الا الدعاء ولا يزيد العمر الا البر وان الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه (رواه الترمذي وبن حبان

“Tidak ada yang mampu menolak ketentuannya ( Qadha ) keculi dengan doa dan tidak ada yang akan menambah umur melainkan perbuatan baik , dan sesungguhnya seseorang manusia diharamkan baginya rizki dengan dosa yang menimpanya”. ( H.R Tarmiji dn ibnu hibban ).

          e.    Sunnatullah

                Sunnatullah adalah hukum Allah yang mengisi alam semesta yang biasanya disebut juga hukum alam, seperti hukum grafitasi bumi, perjalanan matahari melalui garis ekliptika selama 1 tahun, bumi berputar pada sumbunya selama 24 jam, kapal yang timbul karena perbandingan volume dan berat, hukum Archimedes, hukum Boyle keseimbangan antara proton dan elektron dalam atom, mungkin hukum seperti ini ada dalam diri manusia yang antara daya pikir dan dorongan hawa-nafsu harus seimbang. Sunnatullah itu isinya adalah qadha Allah karena dalam tulisan ini qadha Allah (ketetapan Allah) sama dengan Sunnatullah.

f.    Fithrah

                Fithrah adalah sifat bawaan  makhluk Allah, benda, tumbuh-tumbuhan dan hewan semua memiliki sifat bawaan. Dalam diri manusia sifat bawaan itu berupa “kecerdasan” yang tersimpan dalam Gen manusia. Menurut Geneologi dalam Gen manusia ada terimpan sebanyak 3.000.000.000 huruf-huruf kimia dalam Gen itu yang menyimpan talenta, informasi pengetahuan dan instruksi jiwa manusia. Akan tetapi sekian banyaknya kemampuan manusia yang tersimpan, signal yang bernyala hanya sekitar 3-5 %. Orang orang yang amat cerdas hanya antara 5 sampai 10 % saja signal Gennya yang bernyala selainnya masih membeku. Kalau sekiranya kecerdasan anugerah Allah yang tersimpan sebanyak tiga milyar huruf kimia itu terbuka 50% saja barapa dahsyat kepintaran manusia, mungkin manusia ketika itu sudah bisa bertandang antar planet bumi yang ada didalam jagat.

    g.   Nasib

             Nasib adalah bagian yang diperoleh. Jadi nasib manusia itu tidak ditetapkan ukurannya karena ia hanya merupakan hasil akhir dari sebuah usaha yang dilakukan makhluk.

         2.  Rumus Takdir

             Untuk menghitung beberapa besar nilai nasib dalam kehidupan ini maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi :

a.       Faktor Qodha / Sunnatullah (S)

                Faktor ini merupakan hukum-hukum ketetapan Allah yang mempengaruhi keadaan alam. Faktor ini adalah faktor yang konstan tapi kalau bertabrakan dengan kekuatan (kodrat) yang lebih besar maka hukum itu akan berubah. Seperti hukum grafitasi bumi dapat ditaklukan kodrat manusia dengan cara membuat mesin pesawat terbang. Akan tetapi Qodha yang berhubungan dengan daya Ruh seperti jenis laki-laki dan perempuan, qodha ini tidak dapat dirobah oleh kepandaian manusia setinggi apapun, sebab tidak ada kodrat lain yang melebihi kodrat yang terisi alam Roh karena Roh adalah Rahasia Allah, tapi kalau  Banci itu merupakan penyakit dapat dioperasi disesuaikan dengan hormon dirinya mana yang lebih besar apakah Peminin atau Maskulin

b.      Faktor Qadar (Q)

                   Faktor ini merupakan ukuran-ukuran yang telah tertentu  untuk perwujudan suatu benda atau makhluk, juga merupakan faktor konstan.

c.       Faktor Takdir ( T )

                   Fakor ini merupakan perpaduan Qadar yang menyatu kedalam faktor Qodha dan Fitrah. Seperti takdir pohon kelapa sebagai tanaman pantai, adalah di sebabkan kadar yang ada dalam pohon kelapa  dengan sifat bawaan  (fitrah) membutuhkan tempatnya alam yang beriklim tropis, dekat dengan laut, karena itu kelapa dipersiapkan buahnya bersabut jikalau jatuh bisa timbul dan hanyut untuk terdampar dan hidup disitu. Pohon kelapa membutuhkan banyak zat garam, walaupun ada kelapa yang tumbuh di daerah non-tropis, dipegunungan, sebenarnya itu bukan karena ditakdirkan melainkan ada kekuatan yang mampu merubah takdirnya memindahkannya ke daerah non-tropis hiduplah ia dengan tidak sesuai takdirnya itulah nasibnya si pohon kelapa

      d.   Faktor Fitrah ( F )
                   Faktor ini adalah merupakan sifat bawaan dari suatu benda atau makhluk. Jadi takdir merupakan faktor qadar yang larut dalam sunnatullah [Qadha] ditambah sifat-sifat bawaan yang menentukan warna kediriannya. Dapat diturunkan kedalam rumus :
                                                T = (Q + S + F)

e.       Faktor Kodrat / Irodat [daya kekuatan dan dorongan] = K

                   Faktor ini merupakan daya kekuatan yang dimiliki oleh setiap benda atau mahkluk hidup yang ukurannya tidak tetap bisa bertambah dan bisa berkurang.

f.        Faktor Iman / ilmu / amal (I)

                   Faktor ini merupakan kekuatan tambahan yang mengisi relung jiwa manusia dari hasil upaya manusia.

g.       Faktor daya upaya, = D

                   Faktor ini merupakan perpaduan faktor K + faktor I. Jadi ; D = [K+ I]
     
h.      Faktor penyimpangan atau hambatan (X)

                   Faktor ini merupakan faktor yang tak terduga karena muncul diluar sunnatullah, keluar dari kodrat yang menyimpang. Kekuatan ini dapat menyimpangkan perjalanan takdir, dapat menimbulkan kelainan dalam fitrah dapat merusak ketetapan kadar. Faktor ini disebut penyimpangan hukum. Seperti jari-jari tangan manusia ditetapkan menurut hukum Qadha Allah jumlahnya 5, tetapi dengan penyimpangan sel ada jempol anak manusia yang bercabang dua.

i.         Faktor Anugrah Allah (A).

                   Anugrah Allah merupakan faktor yang akan diraih menjadi rejeki, nikmat dan rahmat.

j.        Nasib (N) 

             Bagian yang dapat diraih.

             Dengan beberapa faktor yang telah disebutkan diatas maka dapat kita rumuskan bahwa nasib manusia sebagai berikut :

         3.  Rumus Nasib

           Jadi nasib adalah bagian yang diterima seseorang dimana itu merupakan perpaduan faktor Qadha, Qadar, Fitrah yang bereaksi dengan faktor Daya upaya  (yang merupakan perpaduan Qodrat / Irodat dengan  daya iman, ilmu dan amal /aktivitas) dikurangi dengan faktor penyimpangan. Hasil daya ini dikalikan dengan besarnya Anugerah Allah yang terhampar.  Kalau diturunkan dengan rumus Matematika :

                                    N = [ T + D – X ] x A.

          Semakin besar daya upaya maka semakin kecil penyimpangan dan hambatan. Kalau daya upaya kecil maka hambatan akan bertambah besar. Disini kita temukan makna tersirat dari firman Allah yakni : “ Tidak akan berubah nasib suatu kaum sehingga mereka itu mampu merubah apa yang ada didalam dirinya, yaitu faktor perngetahuan, keimanan dan amal, kreativitas serta aktivitas”. Jadi, apakah makna tersirat dalam kandungan Rukun Iman keenam yang menyatakan : WABIL KODRI KHOIRIHI WA SYARRIRHI MINA’LLAH = dengan kadar ukuran ketentutan yang telah ditetapkan  baik maupun buruk adalah dari Allah?.
           Penjelasan Hadist ini memberikan pengertian kepada kita bahwa kadar / qodha yang ditetapkan Allah itu mengandung kebaikan atau keburukan, akan tetapi belum tentu kemungkinan kadar baiknya sesuatu itu mendatangkan kebaikan kepada manusia atau sebaliknya. Misalnya pohon kayu putih mengandung kadar baik (karena minyaknya bisa jadi obat) tetapi kalau minyak kayu putih diminum sebotol dapat menimbulkan kejadian buruk.
           Dengan beriman kepada qodha dan kadar ummat Islam dianjurkan untuk mempelajari hukum qodha dan kadar (sunnatullah) yang akan melahirkan pengetahuan alam, yang berkembang kepada ukuran–ukuran dalam hitungan (matematika), kemudian tentang nilai-nilai kehidupan yakni ilmu yang berhubungan dengan manusia dan keterampilannya (sosiologi, psikologi dan teknologi). Pengetahuan–pengetahuan ini dapat menguak takdir dan merubah nasib manusia, karena itulah maka Allah berfirman :
وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ(.)

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu untuk (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu (nasib-mu) di dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.           ( Q.S28/ Al-Qashas : 77)

( bersambung : Menguak Takdir 4 )































1 komentar:

  1. Subhanallah ini jawaban yg selama ini q cari.yg bener2 masuk dalam logikaku.terimakasih atas ilmunya
    Semoga Allah membalas kebaikan amiin..

    BalasHapus