Selasa, 08 November 2011

MENGUAK TAKDIR - 1


 
MUQADDIMAH

             Berbicara tentang manusia, Al-Qur’an memberi gelar kepada manusia itu nama : AL-INSAN, AN-NAAS dan AL-BASYAR. Manusia diakatakan Al-Insan karena manusia adalah jenis makhluk yang bukan tergolong hewan atau jin yaitu makhluk yang telah memiliki kesadaran diri, beradab dan berbudaya tetapi lebih cenderung kepada tingkah laku yang tidak terpuji: itulah manusia generasi keturunan Adam. ( Bani Adam ) yang para pakar Anthropologi menduga bahwa manusia yang disebut Insan itu sudah mendiami bumi sejak 100.000 tahun yang lalu.
             Manusia dikatakan dengan An-Naas karena dipandang sebagai makhluk sosial yang sudah mampu menanamkan pengaruh kepada kelompoknya sehingga diantaranya ada pemimpin kelompok. Pemimpin kelompok itu yang menggiring pengikutnya kepada ideologi yang dicetuskan sang pemimpin maka lahirlah bermacam ideologi dalam kehidupan manusia. Masyarakat semakin besar diantara pemimpin ada yang punya pengaruh dan kemampuan yang kuat, lalu kelompok ini mengalahkan kelompok lain. Kepala suku dengan sukunya mengalahkan suku yang lain. Sebuah Kerajaan yang kuat  dengan  rajanya yang berpengaruh mengalahkan Raja dan Kerajaan lain, begitu seterusnya sebuah negara kuat mengalahkan negara lain, maka peperangan di bumi tidak akan berhenti. Sekarang ini Amerika yang kuat, maka mereka mau menguasai dunia.
             Manusia disebut dengan kata Al-Basyar, karena manusia sudah mencapai tingkat kesadaran Spritual yang ingin mencari kedamain hidup , ketenangan batin , karena manusia yang disebut Al-Basyar memerlukan perlindungan dari Tuhan, membutuhkan tempat mengadu yaitu Allah . Maka manusia Al-Basyar adalah manusia yang dapat menggunakan intelegensinya yang dia sadar bahwa intelegensi manusia itu hanyalah merupakan bahagian dari intelegensi-universal atau dengan istilah lain: bahwa akal pikir yang dimiliki manusia itu hanyalah merupakan pemberian Allah, maka seharusnya manusia berpikir dijalan Allah
             Dalam menempuh perjalanan panjang lebih kurang 100.000 tahun manusia telah mengembangkan intelegensinya, terbukti karya seni tertua yang ditemukan orang berusia 30.000 tahun. Manusia sudah mengenal pertanian sejak 10.000 tahun yang lalu lalu peradaban dan kebudayaan berkembang pesat. Manusia manusia yang ingin berkuasa semakin banyak, persainganpun menjadi jadi lalu dunia penuh dengan pertikaian-pertikaian. Sampai suatu ketika manusia menemukan bermacam-macam keterampilan membuat barang-barang kebutuhan dan berkembanglah teknologi. Kebutuhan  semakin banyak dan ekonomi mulai berkembang dan muncullah perdagangan. Dalam perkembangan pesat seperti ini terjadilah penipuan – penipuan, perampokan, pencurian. Maka negeri menjadi tidak aman, lalu dibuatlah peraturan. Namun semakin ketat peraturan semakin banyak pelanggaran karena orang takut kepada peraturan itu dikerenakan sangsinya.
             Maka perlu hukum yang lebih tinggi dan diyakini keadilannya, maka Allah mengutus Rasul. Tetapi Rasul itu tidak menjangkau seluruh dunia. Rasul-rasul diutus Allah hanya pada daerah terpilih yaitu daerah Timur-Tengah yang letaknya dipertengahan bumi, yang keadaan tanahnya miskin dan manusianya hidup dalam ketidakteraturan. Rasul tidak dilahirkan di Asia, Afrika, Amerika atau di Australia      ( kalaupun ada yang lahir di Afrika seperti Musa yang lahir di Mesir tapi tanah air Musa adalah Israil, ya  Timur tengah juga apalagi Indonesia jauh dari kemungkinn  lahir seorang Rasul. Maka Allah juga mengutus Nabi-nabi dimana saja ada ummat manusia. لكل امة رسول )) Selain itu Allah juga menurunkan ajaran- ajaran-Nya melalui Ahli-Hikmah / Filosof . Al-Hikmah itu akan diberikan Allah kepada siapa saja yang terpilih (tidak harus seorang Nabi atau Rasul) sebagaimana Al-Qur’an menyatakannya:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ(269)
“ Al-Hikmah itu diberikan kepada siapa yang mau ( yang mau mencarinya) dan barang siapa yang telah menerima Hikmah maka sesungguhnya dia telah mendapat kebaikan yang banyak dan tidak ada yang menyadariya melainkan para Ulu’l Al baab” (Q.S.2 /Al Baqarah : 269).

             Dengan kedatangan Rasul, Nabi dan para Ahli Hikmah maka peradaban dan kebudayaan semakin tinggi dan manusia semakin pintar dan terampil dalam menempuh perjalanan hidupnya yang dia tidak tahu dimana berakhirnya.
             Dalam menempuh perjalanan hidup itu anak manusia melaluinya tidak selalu berjalan lurus dan lempang, akan tetapi ada liku-liku dan benturan-benturan. Manusia  terus beraktivitas memburu kehidupan ada yang tesandung, ada yang terjungkal, hancur-hancuran, mati-matian ada juga yang berjalan dengan santai dan mulus padahal perjuangannya, keterampilannya tidak seberapa. Manusia hidup bagaikan nyamuk, beribu lahir lalu mencari makan dan mati terbunuh atau mati dengan tidak berkesempatan makan dan membiak seperti yang diberitakan Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلا الْفَاسِقِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat prumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari nyamuk. Adapun orang yan beriman mereka yakin bahwa perumpamaan itu suatu ajaran yang benar yang datang dari Tuhannya, adapun orang yang engkar mereka berkata : apalah yang dimaui Allah dengan perumpamaan ini, maka banyaklah orang yang disesatkan dengan perumpamaan itu dan banyak juga yang dapat ptunjuk dan tidaklah yang disesatkan itu melainkan orang yang fasik”  (Q.S.2/ Al Baqarah : : 26).
             Maka duniapun menjadi panggung sandiwara dimana sebagian jadi pemain dan yang lain  menjadi penonton.
             Islam mengajarkan bahwa : makhluk Allah itu hanya berjalan diatas jalur takdir yang telah ditetapkan hukum-hukumnya atau prinsip dasar dari kehidupan itu dan tunduk kepada qadha dan qadar. Tetapi karena  manusia yang sengaja diprogram mendapat kepercayaan sebagai khalifah Allah di bumi maka manusia dibekali dengan Akal, Hati dan Hawa-nafsu sehingga  dengan sumber daya yang diberi Allah itu, manusia dapat mengatasi kesulitan dalam melewati jalur taqdir itu.
             Memanglah perjalanan hidup manusia itu selalu menghadapi prahara tetapi manusia mampu mencari solusinya dan dengan imannya kepada Qadha dan Qaadar ia mampu menguak takdir.

1 komentar:

  1. Salam. Ahsantum, menarik sekali tulisannya; dalam, kuat & sistimatis. Khalayak ramai perlu mendalaminya walaupun agak berat diawal2nya, terutama bagi pemula dalam mempelajari Agama Islam. Perlu diupayakan untuk dicetak dalam bentuk buku. Selamat, Buya. Semoga semua tulisan tersebut dapa menjadi Shodaqoh Jariah yang tidak terputus pahalanya sepanjang masa. Aamiin.

    BalasHapus