Rabu, 14 Maret 2012

Akhirat yang abadi 10



1.      Menegakkkan Dien yang teguh dan memasyarakatkannya

Sebagaimana yang telah penulis jelaskan tentang pengertian DIEN pada tulisan yang lalu dimana kata Ad-Dien itu mengandung tujuh makna yang semestinya menyatu dalam kehidupan masyarakat.
a.       Dinullah yang bermakna suatu bentuk keyakinan /kepercayaan masyarakat yang mengenal Allah yang Maha Esa yang tidak mensyarikatkan-nya dengan sesuatu. Dari pengertian ini mestinya Upacara ritual Islam itu  dilaksanakan menurut ajaran Allah dengan mencontoh perbuatan Rasul-nya jangan ada tercampur dengan ajaran tradisi leluhur yang dianggap luhur.
b.      Dinul Islam berarti tatanan masyarakat yang tunduk pada norma norma Islam, yang merupakan peraturan lengkap meliputi semua permasalahan kehidupan manusia,yang menjamin penganutnya selamat di dunia dan akhirat.
c.       Dinul Qayyim bermakna Integralitas Fundamental dari infra struktur, suprastruktur dan teknostruktur. Dengan memahami istilah ini Islam itu merupakan masyarakat  yang terikat dalam norma norma keagamaan yang melangkah dengan semangat juang seirama dengan karya dan peradabannya yang tegak dengan tegar, kokoh tak tergoyahkan pada segala zaman dan perkembangan peradaban dibumi.
d.      Dinul Haq bermakna bahwa agama Islam merupakan sumber ilmu pengetahuan yang terdata dan dapat dibuktikan kebenarannya
e.       Dinul Khalish menggambarkan warna dan bentuk kepribadian Muslim yang tidak sama dengan penganut agama lain, karena mempunyai filsafat nilai yang khas dari sikap penampilannya hingga cara berpikir dan cara hidupnya yang penuh keihlasan.
f.       Dinul Hanif, berarti  suatu bentuk tingkah laku umatnya yang tinggi penuh dengan kesucian hati, kejernihan pikiran dan keselarasan dorongan jiwa
g.      Dinul Washib, yang berarti warisan budaya yang merupakan pembentuk nilai luhur yang  bertahan sepanjang zaman

Jadi memasyarakatkan kehidupan beragama adalah dengan meresapkan nilai kandungan Ad-Diin itu ke dalam jiwa dan menuangkannya ketengah tengah kehidupan sehingga terbentuklah “ masyarakat yang terbina dalam aqidah dan keyakinan yang tidak ternoda oleh kesyirikan, menjalankan ibadah yang berdasarkan sunnah dan bersih dari pengaruh adat tradisi. Muslimnya mampu merekayasa berbagai sarana komunikasi, informasi, teknologi yang dapat memanfaatkan materi dan energi untuk kepentingan ummat. Hidup dalam keikhlasan yang mewarnai kepribadian dengan warna yang Islami dan punya karya yang dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang”

 Bila ummat telah menyatu dengan Dien Islam dan Dien Islam itu menyatu ke dalam jiwa ummat Islam, itu berarti insan Muslim telah masuk kedalam Islam secara utuh dan Islam telah masuk ke dalam dirinya, maka dari diri Muslim itu akan keluar semangat untuk membangun Islam dan peradabannya.

“ Hai orang orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam itu secara menyeluruh dan jangan kamu ikutkan khittah ( konsep/program ) Syaitan,karena itu merupakan musuh nyata kepada kamu “ ( Q.S. 2 Al-Baqarah : 208 ).

   Ayat tersebut mengajak dan mengingatkan kita agar masuk ke dalam Islam itu jangan hanya sebagian saja, tapi harus menyeluruh sehingga pribadi yang berada dalam Islam itu terpanggil bukan hanya meyakini aqidah dan melaksanakan ibadah saja,tapi berkarya baik untuk kepentingan Islam dan ummat, berpengetahuan berkepribadian, berakhalak mulia dan mampu mewujudkan peradaban dan kebudayaan yang Islami dalam ehidupan.
Sebaliknya ajaran Islam itu harus masuk ke dalam diri ummat bukan hanya sebatas akal pikir membuat wawasan keislamannya menjadi luas tapi tanpa penghayatan dan pengamalan, Islam masuk ke dalam akal dalam bentuk ilmu-Ilmu islami,meresap lagi ke dalam perasaan dan membuahkan pengahayatan, keyakinan dan kepercayaan lalu keluar dalam bentuk dorongan melalui semangat /kemauan  mewujudkan amal perbuatan yang islami. Jadi,manusia masuk ke dalam Islam secara menyeluruh dan Islam masuk ke dalam diri harus seluruhnya.

3. Menciptakan hidup yang damai yang tak tersentuh rasa takut

Kehidupan yang aman menurut Al-Qur’an adalah kehidupan yang dicucuri rahmat Allah sebagaimana yang difirmankan nya :

“ Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan contoh sebuah negeri yang aman makmur dan tentram,rezkinya berlimpah ruah datang dari segala penjuru tetapi penduduknya mengingkari nikmat Allah,maka dirasakan kepada mereka ( betapa pedihnya ) deselimuti kelaparan dan ketakutan disebabkan ulah perbuatan mereka”     ( Q.S.16 An-Nahl : 112 )

Bila kepedulian ummat Islam kepada berkah dan nikmat Allah memang benar benar ikhlas maka kehidupan yang aman damai akan dapat diraih. Bila nikmat Allah itu sudah dimiliki,  maka si insan tersebut telah memiliki modal untuk beramal shalih. Rasulullah bersabda :
الا اخبركم بأفضل من درجة الصلاة والصيام والصدقة؟ اصلاح ذات البين، فان فساد ذات البين هى الحالقة ( رواه احمد، ابو داود الترمذى، وابن حبان )
“Tidakkah pernah aku beritahukan kepada kamu sesuatu perbuatan yang derajatnya lebih tinggi dari shalat, puasa, dan zakat/ shadakah?               ( yakni )  dengan memperbaiki hubungan, karena rusaknya hubungan itu akan jadi pencukur “ ( Hadits Shahih riwayat Ahmad, Abu Daud,Tirmidzi dan Ibnu Hibban )

Allah berfirman ;
Patutkah kami menganggap orang orang yang beriman dan beramal shalih sama dengan orang orang yang membuat pencemaran di bumi? Patutkah pula kami mengagngap orang bertakwa sama dengan orang berbuat maksiat?”    ( Q.S.38 Shad : 28 )
            Dalam ayat tersebut ada makna yang tersirat yaitu orang yang melakukan pencemaran di bumi walaupun  ia mampu menutupi dirinya dengan kekayaannya yang ia terlihat sebagai orang suci,yang paling sosial namun Allah akan menilai apa yang didalam jiwanya.
a. Ketika tulisan ini dibuat, sebenarnya sudah lama negeri kita berlari menuju modernisasi dibidang pembangunan dengan memanfaatkan kekayaan alamnya.Kekayaan alam negeri kita dengan hutannya yang lebat telah dimanfaatkan orang atau kelompok untuk memperkaya diri sendiri dengan menebang kayunya yang sangat bernilai itu. Setelah kayu ditebang lahan yang menganga dimanfaatkan lagi untuk perkebunan, untuk penghematan biaya maka sisa potongan kayu dibakar, lalu hutan terbakar asap pun mengudara menyesakkan nafas bukan hanya di negeri kita yang tercemar tapi sampai ke negeri tetangga. Informasi yang disiarkan : “hutan terbakkar”
b. Penguasa dan konglomerat banyak berhasil meraih kekayaan di bumi tapi modal dipinjam dari luar negeri dengan perpanjangan tangan pemerintah, yang ketika jatuh tempo tidak terbayar karena dikorupsi akhirnya yang menanggung adalah pemerintah sendiri, untuk itu pemerintahpun berhutang lagi. Negara menjadi miskin padahal alamnya sangat kaya akan tetapi rakyat kalangan atas tak pernah merasa miskin karena berkah dan anugerah Allah tersangkut di atas, maka orang yang dibawah menunggu nunggu berkah itu jatuh walau sisa ceceran orang diatas. Ini bukanlah gambaran hidup yang aman, karena keamanan hanya ada disebelah atas sementara yang dibawah mendapatkan limbah buangan. Jadi bagaimana agar kehidupan yang aman itu dapat terwujud?
Karena pencemaran alam telah terjadi secara nasional, maka tindakan pengamanan suatu negeri harus secara nasional dengan pengertian lain harus ditangani oleh pemerintah sendiri.

“ Dari Abu Umayyah As – Sya’bai ia berkata “ Aku bertanya kepada Abu Tsa’labah, bagaimana engkau memahami ayat ini ( Q.S.Maidah ayat 105 : ……..jagalah dirimu, tidak akan memudharatkan kamu orang yang sesat bila kamu mendapat petunjuk, hanya kepada Allah kamu kembali semuanya…..).Abu Tsa’labah menjawab : Demi Allah engkau telah menanyakan hal ini kepada orang yang pernah diberitahu menganai pekara ini.Aku pernah bertanya kepada Rasulullah kemudian Rasulullah menuturkan,” lakukanlah amar ma’ruf dan cegahlah kemungkaran sehingga engkau melihat adanya kekikiran yang dipatuhi, hawa nafsu yang dituruti,sehingga engkau melihat adanya kekikiran yang dipatuhi,hawa nafsu yang dituruti, dunia yang diutamakan dan setiap orang membanggakan pemikirannya.         ( Ibnu Majah menambahkan : dan engkau melihat sesuatu pengrusakan yang kamu tidak dapat disalahkan ), maka hendaklah engkau menjaga dirimu dan tinggalkanlah orang awan itu karena sesungguhnya dibelakang mu masih ada hari hari panjang. Kesabaran menghadapi ini seperti menggenggam bara. Bagi orang yang masih dapat melakukan kebaikan pada masa ini akan mendapatkan nilai tambah ( pahala ) sebesar 50 orang yang mengamalkan seperti itu” ( Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Tirmizi, Dr.Yusuf Qardawy,Fiqh Perioritas hal  125 ).

Bila keadaan sudah mewujud seperti gambaran hadits di atas dan bila kehidupan ummat hanya memperturutkan hawa nafsu dan hidup hanya untuk kepentingan dunia dan manusia semakin kikir serta membanggakan pikirannya karena kesarjaannya dan ahli politik maka hidup aman damai tidak akan terwujud.
Dalam keadaan kerisis seperti itu ,masih ada insan yang mampu berbuat kebaikan ia akan mendapat nilai 50 kali kebaikan ; padahal berbuat baik itu sudah dutunjukkan jalannya oleh Allah dengan firmannya:
Tidakkah engaku lihat bahwa Allah telah menundukkan apa saja yang ada di langit serta apa yang di bumi buat kamu dan menyempurnakan nikmatnya yang zhahir dan bathin, dan diantara manusia itu masih ada yang membanggakan diri pada program Allah karena ketiadaan ilmu dan tidak mendapat hidayah  ( petunjuk) dan tidak mau mempelajari Al-Kitab ( Al-Quran ) yang memberi penerangan “ ( Q.S.31 Luqman : 20 )

Ayat ini menjelaskan bahwa lingkungan langit ( Kosmosfera ) dan lingkungan bumi ( Geosfera ) adalah merupakan sumber daya alam yang diserahkan Allah untuk manusia.Kemudian Allah menyempurnakan nikmatnya untuk manusia yaitu nikmat zhahir dan nikmat bathin,sehingga dapat kita tarik kesimpulan bahwa ayat di atas menganjurkan kita agar memanfaatkan lingkungan yang biasa disebut dengan Sumber Daya Alam ( SDA ).Lingkungan hidup yang meliputi manusia itu dengan istilah ilmu disebut “ spera “ Spera spera itu adalah :
a.                               Langit ( Kosmofera).Yang kita memanfaatkan dari kosmofera itu diantaranya adalah sinar matahari, karena itu menjadi kewajiban bagi ummat manusia memelihara kosmofera itu agar tidak tercemar.Akan tetapi sekarang ini langit sudah tercemar oleh ulah tangan manusia dengan sengaja tapi tidak menyadarinya telah merusak “ Ozon “ ,      ( seperti banyaknya orang yang menggunakan zat freon yang kalau lepas ke udara dapat merusak lapisasn ozon ).
b.                              Bumi ( Geosfera ) .Spera bumi meliputi Biosfera ( lingkungan yang berhubungan dengan makhluk hidup yaitu Flora dan fauna, Litosfera ( mineral dan batu – batuan atau mineral lain yang sangat bermanfaat , Magnetosfera ( plasma atau gas yang terionisasi yang terperangkap oleh magnet bumi ).Semua ini merupakan nikmat Allah yang tidak ternilai.Semestinya kekayaan itu menjadi modal untuk menggapai kehidupan nikamat zhahir dan bathin karena dapat dimanfaatkan untuk membangun kehidupan di dunia dan diakhirat Pembangunan dunia dan  akhirat itu pada hakikatnya adalah pemenuhan kebutuhan manusia , padahal pemenuhan kebutuhan itu hanyalah merupakan ketidakseimbangan  keseimbangan individu.
Ada empat macam keseimbangan yang sangat dibutuhkan manusia , yaitu :
a.                               Keseimbangan di dalam tubuh yang membutuhkan makanan bergizi.
b.                              Keseimbangan hidup sehari – hari yang membutuhkan sandang , pangan , perobatan , perumahan , dan kenderaan dan mata pencarian.
c.                               Keseimbangan dalam keluarga yang membutuhkan keluarga harmonis dan modal kasih sayang.
d.                              Keseimbangan jiwa yang membutuhkan ibadah dan siraman rohani agar Rohani tidak gersang.
Pemenuhan kebutuhan itu pada hakikatnya adalah menjaga keseimbangan
Sebagaimana yang telah difirmankan Allah :

“ Dan langit ( kosmofera ) ayang ditinggikan lalu diletakkan hukum keseimbangan supaya kamu tidak berbuat penyimpangan pada keseimbanga itu.Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan jangan dikurangi sedikitpun hukum keseimbangan itu “ ( Q.S . 55 Ar – Rahman : 7 – 9 ).
Menjaga keseimbangan dalam usaha pemenuhan kebutuhan hidup tidaklah mungkin dapat dilakukan tanpa adanya “ Lembaga Masyarakat yang melaksanakan pemanfaatan, pelestarian dan pembangunan teknologi. Lembaga ini disebut TEKNOSTRUKTUR.Lembaga ini tidak akan dapat mewujud tanpa dilandasi oleh filsafat dan pandangan jauh ke depan menganai perteknologian yang sesuai dengan kondisi manusia dan lingkungannya ( speranya ).Landasan ini disebut TEKNOSOFI yang di atas landasan inilah berdirinya lembaga TEKNOSFERA.Keterkaitan antara teknosfera dengan teknologi,teknostruktur dan teknosofi disebut TEKNOSISTIM yang akan dibicarakan kemudian.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar