Kamis, 13 Desember 2012

MIsteri Alm dan Manusi xxix


Misteri Alam dan Manusia xxix

3. Siti Hawa turun ke bumi
Karena bunda Siti Hawa masih bentuk Makhluk Ruhani dia harus punya fisik dan sebagaimana logisnya Sunnatu’llah Ruh Siti Hawa harus memasuki Ibu hamil di bumi dari salah seorang perempuan evolusi terakhir. Bunda Siti Hawa Lahir dibumi sebagai anak perempuan yang keadaannya sama dengan Maryam yaitu perempuan Parthenogenesis        ( Pembuahan sepihak )
Karena itulah Allah mengatakan tentang Kejadian kelahiran Isa sama seperti Adam  karena sama-sama mengandung Misteri.
انَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ>

“Sesungguhnya misal ‘Isa itu disisi Allah adalah seperti Adam. Allah telah menjadikannya dari Turab (Zat yang sangat halus bagai debu) kemudian berfirman Allah kepadanya: “Jadilah !”, Maka menjadilah Ia” (Q. S. 3. Ali Imran: 59).

Bagaimanakah cara kejadiannya ?

          Cikal-Bakal-Manusia Nafs-Wahidah  melahirkan pasangan hidupnya :
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ ءَاتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Terjemah Harfiah
هُوَ الَّذِي              = Dia-lah Allah yang
خَلَقَكُمْ                = telah menjadikan kamu
مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ       = ( berasal ) dari NAFS-WAHIDAH
وَجَعَلَ مِنْهَا            = dan telah menjadikan dari-nya ( Nafs Wahidah ) itu,
زَوْجَهَا              = pasangan-nya  ( apakah suami atau istri ?)  . Kalau  dalam Bahasa Arab kata Zaujun(  زوج ) artinya suami dan zaujatun   ( زوجة ) artinya istri, tapi itu setelah bahasa Arab dikembangkan, pada dasarnya arti Zaujun itu “pasangan” bisa laki laki bisa juga perempaun. Kata zauja-ha pada ayat diatas bermakna suaminya karena kata HA dari kalimat zauja- HA, dhomir Ha itu kepada kata yang muannast yakni Nafs wahidah. Kalau pasangan yang dimaksud Adam dan Hawa berarti Nafs Wahidah itu adalah Siti Hawa.
لِيَسْكُنَ                =  supaya ia ( si- Zaujun / suami ) merasa senang ( kata
                           kata يَسْكُنَ  juga menunjukkan jenis muzakkar ( laki laki)
إِلَيْهَا                   =  kepada-nya ( Nafs Wahidah )
فَلَمَّا                   =  maka tatkala
تَغَشَّاهَا                =  dicampuri-nya dia ( istrinya ) = Nafs wahidah…
                          ( Perkataan (  تَغَشَّى  )= taghosy-sya-ya = fi’il madhi mazid yang mendapat imbuhan “ TA”  (ت) setimbang dengan : (  تفعل  ) yang mengandung makna :(  للتعدى  ) = dilakukan berulang-ulang dan didalam kata itu ada tersimpan dhomir هو  ( Huwa ) = dia laki-laki.
Jadi terjemahannya :  setelah dia (si Zaujun/suami ) mencampuri istrinya ( Nafs Wahidah ) berulang ulang maka….hamillah . Yang hamil adalah Nafs Wahidah ). Jadi siapa Nafs- Wahidah itu ? Dia “Seorang Pererempuan” berarti dia adalah Bunda “Siti-Hawa”. Siti Hawa yang memperanakkan Adam dan jadi suaminya sendiri. وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا = menjadikan daripadanya suaminya. Kalau pada ayat ini:
يَاآدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ
arti zaujun = istri, tapi pada ayat diatas tadi arti zaujun = suami karena yang mencampuri Naf Wahidah adalah laki laki


Terjemahan Maknawiyah
“Dialah Yang menciptakan kamu dari NAFS-WAHIDAH ( diri yang satu ) dan daripada-nya( Nafs-Wahidah )itu Dia menciptakan ZAUJA-HA ( pasangannya ), agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah berulang ulang  dicampurinya, ( Si Nafs-Wahidah) lalu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan. Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". (Q.S.7/ Al-A’raf :189).
            Menurut Teks ayat diatas bahwa Nafs-Wahidah itu adalah seorang Perempuan yang ia telah melahirkan Pasangannya ( Zauja-ha / suaminya ) yaitu ADAM. Itu artinya bahwa Nafs Wahidah itu adalah BUNDA SITI HAWA, Cikal bakal Manusia Sempurna yang telah melahirkan SEORANG MANUSIA SUPER yang bergelar “ADAM”. Memang begitulah Sunnatu’llah bahwa Perempuanlah yang  mampu melahirkan walaupun perempuan tak punya suami namun bisa melahirkan anak      ( pembuahan sepihak ) laki-laki tak pernah dijadikan seperti itu ( Allah tidak membuat Hukum bahwa laki-laki bisa melahirkan anak. Dalam penelitian dan pengkajian Biologi menemukan fakta bahwa kasus perempuan bisa melahirkan tanpa dibuahi oleh sperma laki-laki adalah suatu hal yang normal, logis terjadi; sehingga ahli Medis menerbitkan buku :
Anomalies and Curiocities of Medicine ( Berbagai Penyimpangan dan Keajaiban Tentang Ilmu Kedokteran, yang sengaja memuat judul :VIRGIN BIRTH”, DIMANA BAYI BISA LAHIR DARI SEORANG PERAWAN TANPA PERSENGGAMAAN TANPA DIBUAHI DENGAN SPERMA JANTAN, Peristiwa itu dikenal dalam Biologi dengan istilah Parthenogenesis   ( Pembuahan sepihak )
Karena itulah Allah mengatakan tentang Kejadian kelahiran Isa sama seperti Adam  sebagaimana bunyi ayat yang telah dikutip diatas
انَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ>

“Sesungguhnya misal ‘Isa itu disisi Allah adalah seperti Adam. Allah telah menjadikannya dari Turab (Zat yang sangat halus bagai debu) kemudian berfirman Allah kepadanya: “Jadilah !”, Maka menjadilah Ia” (Q. S. 3. Ali Imran: 59)
وَالَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهَا مِنْ رُوحِنَا وَجَعَلْنَاهَا وَابْنَهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan kedalam rahimnya Ruh-Kami, dan kami jadikan dia dan anaknya itu sebagai ayat (Tanda kebesaran Allah) untuk seluruh Alam.” (Q. S. 21 Al-Anbiyaa’: 91)

            Begitulah keadaannya Siti Hawa, Allah meniupkan Ruh Adam kedalam kendungannya dan lahirlah pasangan Siti Hawa dari dirinya sendiri yaitu: Adam , yang sewaktu dialam Ruh, Adam adalah suami/pasangan Siti Hawa, dibumi Adam merupakan putra Siti Hawa. Ketika Bunda Siti Hawa mengandung berat ia meninggalkan keluarga dan kampungnya karena malu mengandung sementara ia belum bersuami mengembara menyelusuri hutan dan gurun hingga sampai dilembah Mesopotamia, untuk kelak ia melahirkan generasi manusia sebagai rumpun Ras baru yaitu Ras Babil yang mendiami daerah Timur-Tengah yang dari Gen putranya/suaminya akan melahirkan Nabi nabi dibelakang hari ( karena itulah maka Nabi tak pernah ada dilahirkan dari kalangan Ras Kaukasoid, Negroid dan Mongolid semua Nabi dari Ras Babil  penghuni daerah Timur Tengah. Begitu pula keadaan Maryam seperti nasibnya Bunda Siti Hawa mengandung tanpa ada suami dan beliau mengasingkan diri seperti yang dijelaskan ayat berikut ini:

“Dan ingatlah bahwa didalam kitab ada kisah Maryam, ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya kesuatu tempat disebelah Timur, maka ia mengadakan dinding (Menutup diri) dari orang ramai. Lalu kami mengutus Ruh-Kami kepadanya, maka ia menjelma dihadapannya dalam bentuk manusia benar-benar (bukan makhluk lain yang menyerupai).
Maryam berkata: Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhan yang Maha Pengasih dari godaanmu, jika engkau adalah orang suci. Ia (Makhluk Ruhani) berkata: Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyediakanmu (li-ahaba) seorang anak laki-laki yang suci. Maryam berkata: Bagaimana mungkin aku memiliki seorang anak laki-laki, padahal aku tidak pernah disentuh laki-laki, dan aku bukan orang nakal. (Makhluk Ruhani) berkata: Demikianlah Tuhanmu telah berfirman “Hal itu adalah mudah bagi-Ku dan Kami menjadikannya sebagai ayat kepada manusia dan Rahmat dari Kami, dan adalah itu perkara yang sudah diputuskan. Maka Maryam pun menghamilkannya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ketempat yang jauh.” (Q. S. 19. Maryam: 16-22)

                        Penampakan pria ganteng didepan  Maryam merupakan sebab terjadinya peristiwa Parthenogenesis sehingga terjadi  pembuahan sepihak, begitu pula yang terjadi pada diri     “ BUNDA SITI HAWA”, penampakan Diri-Adam menjadikan peristiwa Pembuahan sepihak ( Parthenogenesisi ) pada diri BUNDA SITI HAWA dan memang Adam merupakan pasangan Siti Hawa ketika di alam Ruh. Memang janggal ketika dialam Ruh Adam adalah suami Siti Hawa dibumi Adam merupakan anak Siti  Hawa. Kejanggalan ini hanya karena kita menggunakan hukum Sunnatu’llah dizaman kita, kita tidak menghiraukan Sunnatu’l awalin, dimana manusia baru saja keluar dari hukum sunnah Hewan yang masih berlaku hubungan sex yang belum ada batasannya. Dimasa kita sekarang haram hukumnya mengawini dua bersaudara adik/kakak tapi dimasa Israil    (Nabi Ya’kub ) beliau mengawini Eliya (Leiya ) dan Ruhila ( Rachel ) adik beradik putri Laban, ya dimasa Ya’kub mengawini sekaligus dua bersaudara belum diharamkan, malah dizaman anak anak Adam kawin dengan saudara kandung belum diharamkan.

“Ingatlah ketika berkata Malaikat kepada Maryam: Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan ‘Kalimat dari-Nya’ (Suatu Mukjizat dapat melahirkan tanpa ada perkawinan), namanya: “Al-Masih ‘Isa ibnu Maryam” seorang yang terkemuka di dunia dan akhirat, dan salah seorang yang termasuk muqarrabin (yang dekat dengan Allah).” (Q. S. 3. Ali-Imran: 45)

Demikian yang diberitakan Allah tentang kejadian ‘Isa menurut Al-Qur’an, yang dijadikan perbandingan kelahiran Adam sebagai Bapak Manusia modern.

Kalau begitu apa artinya Adam dicipta dari  bermacam jenis tanah  ( Hamaa’, Turab, Thin, Shalshal ?)
Kalau Adam  dikatakan dicipta dari Al-Hamaa’  ( lumpur-hitam ), bukankah manusia anak cucu Adam juga dikatakan dari Al-Hamaa’ .

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ.
“Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk” ( QS.15/Al-Hijir : 26 ).

Kalau Adam dikatakan dijadikan dari Turab, bukankah kita anak cucu Adam juga dikatakan berasal dari Turab ?. ( perhatikan Data: 22: 5; 30: 20; 35: 11; 40: 67)

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ........................
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari debu-tanah ( turob ) kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan………………………” ( QS.22/Al-Haj: 5 )

Allah menciptakan Adam dari Thin, bukankah kita umat manusia keturunan Adam juga dari Thin? ( lihatlah Data 6: 2 ; 38: 71; 37: 11)

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ>

“Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah thin ( Tanah liat yang lengket ), sesudah itu ditentukannya ajal, dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya, kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu)”     ( QS.6/ Al-An’am : 2 ).
            Ternyata kita tidak terbuat dari lumpur hitam, tidak berasal dari debu tanah, tidak juga dari  tanah liat dan tembikar, kalau begitu ada makna lain dari kata Hama’, turab, thin dan shalshal itu. Jadi apa makna tersirat “manusia dijadikan dari Hamaa’,Turab, Thin, dan Shal-shal” ?
Ada lagi pernyataan Al-Qur’an yang mengatakan bahwa Manusia berasal dari Air. (QS.: 86: 5 , 6)
Apakah tidak mungkin bahwa macam-macam kejadian ini hanyalah berupa proses  “Kimia-kehidupan” ?
Marilah kita menggunakan  disiplin ilmu lain misalnya Biologi, yang bisa kita jadikan alat pembuka tabir kemusykilan ini, apa hasil yang kita temukan?
            Manusia dikatakan dijadikan dari  Al-Hama’u ( lumpur hitam), itu hanyalah  kata simplifikasi untuk menyatakan bahwa Al-Hamaa’ itu  berupa Protein yaitu paduan zat-zat yaitu Zat-Arang (Carbon), Zat Lemas (Nitrogen), Zat Pembakar (Oksigen), Zat-Air (Hidrogen), Zat Belerang (Sulphur), Phosfor. ( Q. S. 15.  Al-Hijr: 28)
            Allah mengatakan manusia itu berasal dari Turab yang artinya Zat-halus seperti debu, yang umumnya diartikan orang Tanah-debu. Zat halus seperti debu itu tidak lain adalah bagian yang sangat halus dari tubuh manusia yaitu SEL. Semua makhluk hidup bermula dari sel baik tumbuh tumbuhan ataupun Hewan hewan dan gen-lah yang menentukan fungsi dari sel, maka sel ranbut tak mungkin berubah fungsinya menjadi sel jantung. Kita sekarang sudah mengenal sel itu berkat kecerdasan manusia yang sudah mengadakan penelitian sehingga para ilmuan dapat menyingkap berbagai misteri kehidupan. Di Zaman Nabi Muhammad belum ada sebuah kata untuk menyatakan zat yang halus yang bersifat materi, seperti yang penulis telah katakan pada kata pengantar bahwa Allah memilihkan kata dalam bentuk simplifikasi untuk memudahkan pengertian dengan kata-kata Al-Hamaa’, Turob, Thin, Shal-shal .

Thin adalah tanah liat yang mengandung daya rekat seperti semen, hakikatnya adalah yang merekat seperti semen itu dalam Biologi dikenal dengan nama Khromosom yang berisi plasma pembawa sifat. Setiap terjadi pembelahan sel, maka kromosom didalam sel inilah yang lebih dahulu membelah diri. Setiap sel didalam tubuh mempunyai Empat puluh enam Kromosom yang diatur menjadi Dua puluh tiga pasang. Dengan demikian setiap sel dalam tubuh mengandung Dua puluh tiga Kromosom meneruskan keturunan dari pihak bapak dan Dua puluh tiga Kromosom untuk meneruskan keturunan dari pihak ibu. Kromosom-kromosom itu berpasangan seperti ada perekatnya yang Al-Qur’an menyebutnya dengan kata: Thin.
            Kemudian  Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia berasal dari Shal-shal (Tanah liat yang dijadikan bahan untuk membuat kendi). Shal-shal ka’l fakh-khar .
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ()

Dia menciptakan manusia dari tanah kering( tanah liat ) seperti tembikar,( QS.55 /Ar-Rahman: 14)

            Perkataan tanah liat yang seperti bahan untuk membuat gerabah, kendi tempat air hanyalah suatu kiasan untuk menerangkan bahwa Shal-shal adalah zat yang berfungsi sebagai alat penyimpan. Itulah yang dimaksud dengan Gen yang berisi Deozyribonuclei-acid (DNA) bahan gizi yang ajaib yang mengatur fungsi sel dan jaringan organ tertentu agar disesuaikan dengan sifat keturunannya.
            Tentang adanya sifat keturunan dalam Kromosom ( Thin ) ini dijelaskan secara  gamblang dalam Surat Al- Mukminun ayat 12 dan 13 :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ>ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ>

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia itu dari sulalati’m-min thin. Kemudian Kami jadikan ia menjadi air mani yang tersimpan pada tempat yang kuat. “ ( QS. 23/ Al- Mukmin: 12,13 )

            Perkataan Sulalah (   سُلَالَةٍ    ) bermakna  keturunan (  اصل النصب   ), Qamus Al-Munawwir halaman : 699. Jadi asal usul manusia itu dari zat DNA yang mengandung sifat keturunn yang ada dalam Thin ( kromosom ) lalu menjadi air mani yang tersimpan pada tempat yng kokoh. Kerena pengetahuan tentang Gen dan DNA belum sampai ketika Al-Quran ditafsirkan maka didalam Tafsir kata kata : Sulalati’m min thin diartikan dengan Sari-pati tanah
            Kode genetik manusia yang tersusun lebih dari tiga miliard huruf huruf kimia tersimpan dalam Gen berupa untaian untaian yang berukuran mikroskopik yang beratnya hanya “satu per dua ratus miliar gram” yang lebarnya “ satu per limaratus ribu millimeter”.
            Jadi perkataan Al-Hamaa’ yang diartikan Lumpur, Turab yang biasa diartikan Tanah-debu, Thin diartikan dengan Tanah-lengket seperti semen, Shal-shal yang diartikan dengan Tanah-liat bahan untuk membuat  kendi adalah kata-kata simplifikasi yaitu kata kata yang disimpelkan, dimudahkan untuk memperkenalkan sesuatu yang belum pernah dikenal., diperlukan waktu panjang untuk memahaminya sampai  disuatu ketika manusia mendapatkan ilmu pengetahuan dari hasil penelitiannya.
            Sekarang  jelaslah  kepada kita bahwa  Zat-Tanah dengan Zat-Air telah bertemu untuk membentuk Zat-DNA. Lalu zat ini berkembang biak secara otomotis menciptakan duplikat dirinya Lalu partikel zat ini bertemu sesamanya untuk membentuk Protein yang dikiaskan dengan Al-Hama’ ( Lumpur hitam ) adalah kata yang dipilihkan untuk menggambarkan adanya protein itu berupa larutan yang dapat dilihat dibawah mikroskop. Lalu Al-Hama’ itu diberi bentuk (QS 15: 28) berupa pasangan-pasangan Khromosom yang dikiaskan dengan perkataan Thin (Tanah yang mengandung perekat / semen). Maka terwujudlah suatu bentuk halus hanya seperti partikel debu (Turab), tapi bukan debu tanah yang tak berarti, tetapi adalah  Sel-Hidup” yang sangat halus. Yang kedua, dalam Al-Qur’an yang ayatnya sudah dikutip diatas dijelaskan bahwa Adam dengan isterinya telah melahirkan anak anaknya melalui kandungan isterinya   ( Bunda Siti Hawa ) sehingga melahirkan manusia yang banyak merupakan Ras baru penghuni daerah Timur Tengah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar