Kamis, 13 Desember 2012

MIsteri Alm dan Manusi xxix


Misteri Alam dan Manusia xxix

3. Siti Hawa turun ke bumi
Karena bunda Siti Hawa masih bentuk Makhluk Ruhani dia harus punya fisik dan sebagaimana logisnya Sunnatu’llah Ruh Siti Hawa harus memasuki Ibu hamil di bumi dari salah seorang perempuan evolusi terakhir. Bunda Siti Hawa Lahir dibumi sebagai anak perempuan yang keadaannya sama dengan Maryam yaitu perempuan Parthenogenesis        ( Pembuahan sepihak )
Karena itulah Allah mengatakan tentang Kejadian kelahiran Isa sama seperti Adam  karena sama-sama mengandung Misteri.
انَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ>

“Sesungguhnya misal ‘Isa itu disisi Allah adalah seperti Adam. Allah telah menjadikannya dari Turab (Zat yang sangat halus bagai debu) kemudian berfirman Allah kepadanya: “Jadilah !”, Maka menjadilah Ia” (Q. S. 3. Ali Imran: 59).

Bagaimanakah cara kejadiannya ?

          Cikal-Bakal-Manusia Nafs-Wahidah  melahirkan pasangan hidupnya :
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ ءَاتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Terjemah Harfiah
هُوَ الَّذِي              = Dia-lah Allah yang
خَلَقَكُمْ                = telah menjadikan kamu
مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ       = ( berasal ) dari NAFS-WAHIDAH
وَجَعَلَ مِنْهَا            = dan telah menjadikan dari-nya ( Nafs Wahidah ) itu,
زَوْجَهَا              = pasangan-nya  ( apakah suami atau istri ?)  . Kalau  dalam Bahasa Arab kata Zaujun(  زوج ) artinya suami dan zaujatun   ( زوجة ) artinya istri, tapi itu setelah bahasa Arab dikembangkan, pada dasarnya arti Zaujun itu “pasangan” bisa laki laki bisa juga perempaun. Kata zauja-ha pada ayat diatas bermakna suaminya karena kata HA dari kalimat zauja- HA, dhomir Ha itu kepada kata yang muannast yakni Nafs wahidah. Kalau pasangan yang dimaksud Adam dan Hawa berarti Nafs Wahidah itu adalah Siti Hawa.
لِيَسْكُنَ                =  supaya ia ( si- Zaujun / suami ) merasa senang ( kata
                           kata يَسْكُنَ  juga menunjukkan jenis muzakkar ( laki laki)
إِلَيْهَا                   =  kepada-nya ( Nafs Wahidah )
فَلَمَّا                   =  maka tatkala
تَغَشَّاهَا                =  dicampuri-nya dia ( istrinya ) = Nafs wahidah…
                          ( Perkataan (  تَغَشَّى  )= taghosy-sya-ya = fi’il madhi mazid yang mendapat imbuhan “ TA”  (ت) setimbang dengan : (  تفعل  ) yang mengandung makna :(  للتعدى  ) = dilakukan berulang-ulang dan didalam kata itu ada tersimpan dhomir هو  ( Huwa ) = dia laki-laki.
Jadi terjemahannya :  setelah dia (si Zaujun/suami ) mencampuri istrinya ( Nafs Wahidah ) berulang ulang maka….hamillah . Yang hamil adalah Nafs Wahidah ). Jadi siapa Nafs- Wahidah itu ? Dia “Seorang Pererempuan” berarti dia adalah Bunda “Siti-Hawa”. Siti Hawa yang memperanakkan Adam dan jadi suaminya sendiri. وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا = menjadikan daripadanya suaminya. Kalau pada ayat ini:
يَاآدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ
arti zaujun = istri, tapi pada ayat diatas tadi arti zaujun = suami karena yang mencampuri Naf Wahidah adalah laki laki


Terjemahan Maknawiyah
“Dialah Yang menciptakan kamu dari NAFS-WAHIDAH ( diri yang satu ) dan daripada-nya( Nafs-Wahidah )itu Dia menciptakan ZAUJA-HA ( pasangannya ), agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah berulang ulang  dicampurinya, ( Si Nafs-Wahidah) lalu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan. Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". (Q.S.7/ Al-A’raf :189).
            Menurut Teks ayat diatas bahwa Nafs-Wahidah itu adalah seorang Perempuan yang ia telah melahirkan Pasangannya ( Zauja-ha / suaminya ) yaitu ADAM. Itu artinya bahwa Nafs Wahidah itu adalah BUNDA SITI HAWA, Cikal bakal Manusia Sempurna yang telah melahirkan SEORANG MANUSIA SUPER yang bergelar “ADAM”. Memang begitulah Sunnatu’llah bahwa Perempuanlah yang  mampu melahirkan walaupun perempuan tak punya suami namun bisa melahirkan anak      ( pembuahan sepihak ) laki-laki tak pernah dijadikan seperti itu ( Allah tidak membuat Hukum bahwa laki-laki bisa melahirkan anak. Dalam penelitian dan pengkajian Biologi menemukan fakta bahwa kasus perempuan bisa melahirkan tanpa dibuahi oleh sperma laki-laki adalah suatu hal yang normal, logis terjadi; sehingga ahli Medis menerbitkan buku :
Anomalies and Curiocities of Medicine ( Berbagai Penyimpangan dan Keajaiban Tentang Ilmu Kedokteran, yang sengaja memuat judul :VIRGIN BIRTH”, DIMANA BAYI BISA LAHIR DARI SEORANG PERAWAN TANPA PERSENGGAMAAN TANPA DIBUAHI DENGAN SPERMA JANTAN, Peristiwa itu dikenal dalam Biologi dengan istilah Parthenogenesis   ( Pembuahan sepihak )
Karena itulah Allah mengatakan tentang Kejadian kelahiran Isa sama seperti Adam  sebagaimana bunyi ayat yang telah dikutip diatas
انَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ>

“Sesungguhnya misal ‘Isa itu disisi Allah adalah seperti Adam. Allah telah menjadikannya dari Turab (Zat yang sangat halus bagai debu) kemudian berfirman Allah kepadanya: “Jadilah !”, Maka menjadilah Ia” (Q. S. 3. Ali Imran: 59)
وَالَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهَا مِنْ رُوحِنَا وَجَعَلْنَاهَا وَابْنَهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan kedalam rahimnya Ruh-Kami, dan kami jadikan dia dan anaknya itu sebagai ayat (Tanda kebesaran Allah) untuk seluruh Alam.” (Q. S. 21 Al-Anbiyaa’: 91)

            Begitulah keadaannya Siti Hawa, Allah meniupkan Ruh Adam kedalam kendungannya dan lahirlah pasangan Siti Hawa dari dirinya sendiri yaitu: Adam , yang sewaktu dialam Ruh, Adam adalah suami/pasangan Siti Hawa, dibumi Adam merupakan putra Siti Hawa. Ketika Bunda Siti Hawa mengandung berat ia meninggalkan keluarga dan kampungnya karena malu mengandung sementara ia belum bersuami mengembara menyelusuri hutan dan gurun hingga sampai dilembah Mesopotamia, untuk kelak ia melahirkan generasi manusia sebagai rumpun Ras baru yaitu Ras Babil yang mendiami daerah Timur-Tengah yang dari Gen putranya/suaminya akan melahirkan Nabi nabi dibelakang hari ( karena itulah maka Nabi tak pernah ada dilahirkan dari kalangan Ras Kaukasoid, Negroid dan Mongolid semua Nabi dari Ras Babil  penghuni daerah Timur Tengah. Begitu pula keadaan Maryam seperti nasibnya Bunda Siti Hawa mengandung tanpa ada suami dan beliau mengasingkan diri seperti yang dijelaskan ayat berikut ini:

“Dan ingatlah bahwa didalam kitab ada kisah Maryam, ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya kesuatu tempat disebelah Timur, maka ia mengadakan dinding (Menutup diri) dari orang ramai. Lalu kami mengutus Ruh-Kami kepadanya, maka ia menjelma dihadapannya dalam bentuk manusia benar-benar (bukan makhluk lain yang menyerupai).
Maryam berkata: Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhan yang Maha Pengasih dari godaanmu, jika engkau adalah orang suci. Ia (Makhluk Ruhani) berkata: Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyediakanmu (li-ahaba) seorang anak laki-laki yang suci. Maryam berkata: Bagaimana mungkin aku memiliki seorang anak laki-laki, padahal aku tidak pernah disentuh laki-laki, dan aku bukan orang nakal. (Makhluk Ruhani) berkata: Demikianlah Tuhanmu telah berfirman “Hal itu adalah mudah bagi-Ku dan Kami menjadikannya sebagai ayat kepada manusia dan Rahmat dari Kami, dan adalah itu perkara yang sudah diputuskan. Maka Maryam pun menghamilkannya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ketempat yang jauh.” (Q. S. 19. Maryam: 16-22)

                        Penampakan pria ganteng didepan  Maryam merupakan sebab terjadinya peristiwa Parthenogenesis sehingga terjadi  pembuahan sepihak, begitu pula yang terjadi pada diri     “ BUNDA SITI HAWA”, penampakan Diri-Adam menjadikan peristiwa Pembuahan sepihak ( Parthenogenesisi ) pada diri BUNDA SITI HAWA dan memang Adam merupakan pasangan Siti Hawa ketika di alam Ruh. Memang janggal ketika dialam Ruh Adam adalah suami Siti Hawa dibumi Adam merupakan anak Siti  Hawa. Kejanggalan ini hanya karena kita menggunakan hukum Sunnatu’llah dizaman kita, kita tidak menghiraukan Sunnatu’l awalin, dimana manusia baru saja keluar dari hukum sunnah Hewan yang masih berlaku hubungan sex yang belum ada batasannya. Dimasa kita sekarang haram hukumnya mengawini dua bersaudara adik/kakak tapi dimasa Israil    (Nabi Ya’kub ) beliau mengawini Eliya (Leiya ) dan Ruhila ( Rachel ) adik beradik putri Laban, ya dimasa Ya’kub mengawini sekaligus dua bersaudara belum diharamkan, malah dizaman anak anak Adam kawin dengan saudara kandung belum diharamkan.

“Ingatlah ketika berkata Malaikat kepada Maryam: Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan ‘Kalimat dari-Nya’ (Suatu Mukjizat dapat melahirkan tanpa ada perkawinan), namanya: “Al-Masih ‘Isa ibnu Maryam” seorang yang terkemuka di dunia dan akhirat, dan salah seorang yang termasuk muqarrabin (yang dekat dengan Allah).” (Q. S. 3. Ali-Imran: 45)

Demikian yang diberitakan Allah tentang kejadian ‘Isa menurut Al-Qur’an, yang dijadikan perbandingan kelahiran Adam sebagai Bapak Manusia modern.

Kalau begitu apa artinya Adam dicipta dari  bermacam jenis tanah  ( Hamaa’, Turab, Thin, Shalshal ?)
Kalau Adam  dikatakan dicipta dari Al-Hamaa’  ( lumpur-hitam ), bukankah manusia anak cucu Adam juga dikatakan dari Al-Hamaa’ .

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ.
“Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk” ( QS.15/Al-Hijir : 26 ).

Kalau Adam dikatakan dijadikan dari Turab, bukankah kita anak cucu Adam juga dikatakan berasal dari Turab ?. ( perhatikan Data: 22: 5; 30: 20; 35: 11; 40: 67)

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ........................
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari debu-tanah ( turob ) kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan………………………” ( QS.22/Al-Haj: 5 )

Allah menciptakan Adam dari Thin, bukankah kita umat manusia keturunan Adam juga dari Thin? ( lihatlah Data 6: 2 ; 38: 71; 37: 11)

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ>

“Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah thin ( Tanah liat yang lengket ), sesudah itu ditentukannya ajal, dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya, kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu)”     ( QS.6/ Al-An’am : 2 ).
            Ternyata kita tidak terbuat dari lumpur hitam, tidak berasal dari debu tanah, tidak juga dari  tanah liat dan tembikar, kalau begitu ada makna lain dari kata Hama’, turab, thin dan shalshal itu. Jadi apa makna tersirat “manusia dijadikan dari Hamaa’,Turab, Thin, dan Shal-shal” ?
Ada lagi pernyataan Al-Qur’an yang mengatakan bahwa Manusia berasal dari Air. (QS.: 86: 5 , 6)
Apakah tidak mungkin bahwa macam-macam kejadian ini hanyalah berupa proses  “Kimia-kehidupan” ?
Marilah kita menggunakan  disiplin ilmu lain misalnya Biologi, yang bisa kita jadikan alat pembuka tabir kemusykilan ini, apa hasil yang kita temukan?
            Manusia dikatakan dijadikan dari  Al-Hama’u ( lumpur hitam), itu hanyalah  kata simplifikasi untuk menyatakan bahwa Al-Hamaa’ itu  berupa Protein yaitu paduan zat-zat yaitu Zat-Arang (Carbon), Zat Lemas (Nitrogen), Zat Pembakar (Oksigen), Zat-Air (Hidrogen), Zat Belerang (Sulphur), Phosfor. ( Q. S. 15.  Al-Hijr: 28)
            Allah mengatakan manusia itu berasal dari Turab yang artinya Zat-halus seperti debu, yang umumnya diartikan orang Tanah-debu. Zat halus seperti debu itu tidak lain adalah bagian yang sangat halus dari tubuh manusia yaitu SEL. Semua makhluk hidup bermula dari sel baik tumbuh tumbuhan ataupun Hewan hewan dan gen-lah yang menentukan fungsi dari sel, maka sel ranbut tak mungkin berubah fungsinya menjadi sel jantung. Kita sekarang sudah mengenal sel itu berkat kecerdasan manusia yang sudah mengadakan penelitian sehingga para ilmuan dapat menyingkap berbagai misteri kehidupan. Di Zaman Nabi Muhammad belum ada sebuah kata untuk menyatakan zat yang halus yang bersifat materi, seperti yang penulis telah katakan pada kata pengantar bahwa Allah memilihkan kata dalam bentuk simplifikasi untuk memudahkan pengertian dengan kata-kata Al-Hamaa’, Turob, Thin, Shal-shal .

Thin adalah tanah liat yang mengandung daya rekat seperti semen, hakikatnya adalah yang merekat seperti semen itu dalam Biologi dikenal dengan nama Khromosom yang berisi plasma pembawa sifat. Setiap terjadi pembelahan sel, maka kromosom didalam sel inilah yang lebih dahulu membelah diri. Setiap sel didalam tubuh mempunyai Empat puluh enam Kromosom yang diatur menjadi Dua puluh tiga pasang. Dengan demikian setiap sel dalam tubuh mengandung Dua puluh tiga Kromosom meneruskan keturunan dari pihak bapak dan Dua puluh tiga Kromosom untuk meneruskan keturunan dari pihak ibu. Kromosom-kromosom itu berpasangan seperti ada perekatnya yang Al-Qur’an menyebutnya dengan kata: Thin.
            Kemudian  Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia berasal dari Shal-shal (Tanah liat yang dijadikan bahan untuk membuat kendi). Shal-shal ka’l fakh-khar .
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ()

Dia menciptakan manusia dari tanah kering( tanah liat ) seperti tembikar,( QS.55 /Ar-Rahman: 14)

            Perkataan tanah liat yang seperti bahan untuk membuat gerabah, kendi tempat air hanyalah suatu kiasan untuk menerangkan bahwa Shal-shal adalah zat yang berfungsi sebagai alat penyimpan. Itulah yang dimaksud dengan Gen yang berisi Deozyribonuclei-acid (DNA) bahan gizi yang ajaib yang mengatur fungsi sel dan jaringan organ tertentu agar disesuaikan dengan sifat keturunannya.
            Tentang adanya sifat keturunan dalam Kromosom ( Thin ) ini dijelaskan secara  gamblang dalam Surat Al- Mukminun ayat 12 dan 13 :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ>ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ>

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia itu dari sulalati’m-min thin. Kemudian Kami jadikan ia menjadi air mani yang tersimpan pada tempat yang kuat. “ ( QS. 23/ Al- Mukmin: 12,13 )

            Perkataan Sulalah (   سُلَالَةٍ    ) bermakna  keturunan (  اصل النصب   ), Qamus Al-Munawwir halaman : 699. Jadi asal usul manusia itu dari zat DNA yang mengandung sifat keturunn yang ada dalam Thin ( kromosom ) lalu menjadi air mani yang tersimpan pada tempat yng kokoh. Kerena pengetahuan tentang Gen dan DNA belum sampai ketika Al-Quran ditafsirkan maka didalam Tafsir kata kata : Sulalati’m min thin diartikan dengan Sari-pati tanah
            Kode genetik manusia yang tersusun lebih dari tiga miliard huruf huruf kimia tersimpan dalam Gen berupa untaian untaian yang berukuran mikroskopik yang beratnya hanya “satu per dua ratus miliar gram” yang lebarnya “ satu per limaratus ribu millimeter”.
            Jadi perkataan Al-Hamaa’ yang diartikan Lumpur, Turab yang biasa diartikan Tanah-debu, Thin diartikan dengan Tanah-lengket seperti semen, Shal-shal yang diartikan dengan Tanah-liat bahan untuk membuat  kendi adalah kata-kata simplifikasi yaitu kata kata yang disimpelkan, dimudahkan untuk memperkenalkan sesuatu yang belum pernah dikenal., diperlukan waktu panjang untuk memahaminya sampai  disuatu ketika manusia mendapatkan ilmu pengetahuan dari hasil penelitiannya.
            Sekarang  jelaslah  kepada kita bahwa  Zat-Tanah dengan Zat-Air telah bertemu untuk membentuk Zat-DNA. Lalu zat ini berkembang biak secara otomotis menciptakan duplikat dirinya Lalu partikel zat ini bertemu sesamanya untuk membentuk Protein yang dikiaskan dengan Al-Hama’ ( Lumpur hitam ) adalah kata yang dipilihkan untuk menggambarkan adanya protein itu berupa larutan yang dapat dilihat dibawah mikroskop. Lalu Al-Hama’ itu diberi bentuk (QS 15: 28) berupa pasangan-pasangan Khromosom yang dikiaskan dengan perkataan Thin (Tanah yang mengandung perekat / semen). Maka terwujudlah suatu bentuk halus hanya seperti partikel debu (Turab), tapi bukan debu tanah yang tak berarti, tetapi adalah  Sel-Hidup” yang sangat halus. Yang kedua, dalam Al-Qur’an yang ayatnya sudah dikutip diatas dijelaskan bahwa Adam dengan isterinya telah melahirkan anak anaknya melalui kandungan isterinya   ( Bunda Siti Hawa ) sehingga melahirkan manusia yang banyak merupakan Ras baru penghuni daerah Timur Tengah

Sabtu, 08 Desember 2012

MIsteri Alam dan Manusia xxviii



1.      Kejadian Adam Menurut Al-Qur’an dan Hadits
Kejadian Adam ( bapak Homo Sapien ) sebagai manusia Insan-Kamil dibumi yang jauh berbeda dari Manusia terdahulu. Perbedaabnya manusia Homo-Sapien mempunyai dua tubuh Jasmani dan Rohani sementara Manusia terdahulu adalah manusia hasil proses evolusi terakhir dari makhluk Pithek. Karena Homo Sapien ( manusia modern ) memiliki dua tubuh Rohani dan Jasmani maka kita teliti dulu bagaimana kejadiannya manusia sebagai makhluk Rohani berdasar fakta Al-Quran atau Hadits
a.. Penjelasan Al-Hadits :
عن ابى هريرة رضى الله عنه قال ، قال رسول الله صلعم : لما خلق الله ادم مسح ظهره فسقط من ظهره كل نسمة هو خالقها الى يوم القيامة، وجعل بين عينى كل انسان منهم وميضا من نور، ثم عرضهم على ادم فقال : اى رب من هؤلاء؟ قال هؤلاء ذريتك ،فرأى رجلا منهم فاعجبه وبيص ما بين عينيه،فقال اى رب من هذا؟ قال هذا رجل من اخر الامم من ذريتك يقال له داود فقال: رب كم جعلت عموره؟ قال : ستين سنة ، قال اى رب زده من عمرى اربعين سنة . فلما قضى عمر ادم جاءه ملك الموت فقال : اولم يبق من عمرى اربعين سنة ؟ قال اولم تعطها ابنك داود ؟ قال: فجحد ادم فجحدت ذريته ونسى فنسيت ذريته وخطئ ادم فخاطئت ذريته ( اخرجه الترمذى )          
“Dari Abu Hurairah ra berkata:  Rasulullah SAW bersabda:
Ketika Allah menciptakan Adam Dia mengusap punggungnya maka jatuhlah setiap jiwa dari punggungnya. Dialah yang menciptakannya sampai hari kiamat. Dia menjadikan sinar cahaya diantara  kedua mata setiap manusia. Kemudian Tuhan menampakkan mereka atas Adam. Lalu Adam bertanya: “Wahai Tuhanku, siapakah mereka?” Allah berfirman: “Mereka adalah keturunanmu.” Adam melihat salah seorang diantara mereka yang mana Adam heran terhadap kecemerlangan apa yang diantara kedua matanya.
Ia bertanya:  “Wahai Tuhanku, siapakah ini?” Allah berfirman: “Ini seseorang dari umat yang akhir dari keturunanmu, namanya Daud.” Ia berkata: “Berapakah Engkau beri umur?” Allah berfirman: “Enam puluh tahun.” Ia berkata: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah  40 tahun dari umurku.”
Ketika umur Adam telah habis, datanglah Malakul maut (malaikat pencabut nyawa). Adam berkata: “Bukankah dari umurku masih 40 tahun?”
Malaikat bertanya: “Bukankah kamu telah memberikannya kepada anakmu Daud?“
Beliau bersabda: “Lalu Adam menentangnya, maka keturunannya menentang. Adam lupa maka keturunannya jadi pelupa, dan Adam salah maka keturunannyapun salah.”   Ditakhrijkan oleh At Tirmidzi dalam Jami’nya  yang menurutnya Hadits ini Hasan Shohih.
( Lembaga Al-Qur’an dan Hadits, Majlis tinggi Urusan Agama Islam Mesir, alih bahasa  Muhammad Zuhri, Kelengkapan Hadits Qudsi  halaman :167 / 168)
           
“Yahya bin Ja’far bercerita kepada kami, Abdur Razaq bercerita kepada kami dari Ma’mar dari Hammam dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW bersabda:

خلق الله ادم على صورته، طوله  ستون ذراعا فلما خلقه قال : اذهب،فسلم على اولئك النفرمن الملائكة جلوس فاستمع ما يحيونك، فانها تحيتك وتحية ذريتك ،فقال ألسلام عليكم  فقالوا السلام عليك ورحمة الله فزادوه ( ورحمة الله ) فكل من يدخل الجنة على صورة ادم . فلم يزل الخلق ينقص حتى الان ( اخرجه البخارى )
Allah menciptakan Adam atas bentuk-Nya tingginya 60 hasta. Ketika telah diciptakan-Nya Allah berfirman: “Pergilah, berilah salam atas kelompok Malaikat itu yang sedang duduk, dengarkanlah penghormatan mereka kepadamu, itulah penghormatanmu dan penghormatan keturunanmu.”
Adam berkata: “Assalamu’alaikum ( Semoga kesejahteraan tetap atasmu ).” Mereka menjawab: “Assalamu’alaikum warahmatullah (Semoga kesejahteraan dan rahmat Allah tetap atasmu).” Mereka menambah “ Waraohmatu’llah ( dan Rahmat Allah ). Setiap orang yang masuk Surga  adalah atas bentuk Adam. Penciptaan itu senentiasa mengurangi        ( diri Adam ) hingga sekarang “ (Hadits ini ditakhrijkan  oleh Al-Bukhari.)
( Lembaga Al-Qur’an dan Hadits, Majlis tinggi Urusan Agama Islam Mesir, alih bahasa  Muhammad Zuhri, Kelengkapan Hadits Qudsi  halaman :159 ).
          Dari dua Hadits yang dikutip diatas kita mendapat penjelasan bahwa Adam mula mula diciptakan di alam Ruh tentu dalam bentuk Makhluk-Ruhani, belum berpisik. Adam melahirkan keturunannya tidak melalui perkawinan ( karena beliau makhluk Ruhami ) tapi dengan cara membelah diri ( karena Adam ketika itu setara dengan Malaikat) dengan isyarat Alah bahwa Allah menyapu belakangnya maka Ruh-ruh yang akan menjadi bibit anak-anak Adam (umat manusia) berguguran/berhamburan  dan hidup sebagai makhluk-Ruhani dialam Ruh. Akibat keluarnya Ruh anak cucunya itu Adam yang ketika itu tingginya lebih kurang 30 meter, tubuh Ruhaninya itu semakin mengecil sampai kebatas ukuran normal manusia sekarang. Sementara Adam-Ruhani masih di-alam-Ruh, Ruh-bibit manusia yang dilahirkan Adam di alam Ruh itu sudah lebih dahulu turun kebumi memasuki kandungan ibu-ibu hamil dibumi dari  Homo-Erektus yang otaknya sudah memenuhi syarat. (  1200 - 1300  cc ). Beribu-ribu tahun lamanya Homo Erektus mengembang biakkan keturunannya menjadi  Homo Sapien dimana mana dipermukaan bumi ada di Eropa,  Asia, Afrika. Di Alam Ruhani, ditempat kediaman Adam-Ruhani di alam Ruh baru berlalu beberapa hari saja ( ukuran hari dialam ruh tidak berdasarkan rotasi bumi ), Allah mengatakan sehari disana, sama dengan seribu tahun di bumi.  Adam mendapatkan pasangan hidupnya dialam ruhani dari belahan dirinya sendiri seperti Netron membelah menjadi Elekrtron dan Proton, pasangan Adam ini  dikenal dengan nama Hawa, bagaimana caranya Adam/ Hawa sampai dibumi menurut kisah selama ini sungguh sangat misteri dan bertentangan dengan hukum akal manusia sekarang akan tetapi dalam buku ini menurut Quran & Hadits kedatangan Adam di bumi datang dengan hukum akal yang logis karena beliau lahir dimasa lampau yang berlaku baginya sunnah/ hukum masa lampau.
............ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلا سُنَّةَ الأوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَحْوِيلا
…….. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu.( Q.S.Al-Fathir : 43 )
Penulis mengutip ayat duiatas hanya sekedar menunjukkan bahwa ada Sunnatu’l awwalin = sunnah yang berlaku bagi manusia terdahulu yang oleh orang masa kini menganggap beda dengan sunnah  manusia sekarang. Betapa tidak, mari kita baca ayat Al-Qur’an yang menjelaskan hal ini.

b.. Penjelasan Al-Qur’an

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ ءَاتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Dialah Yang menciptakan kamu dari NAFS WAHIDAH ( diri yang satu ) dan daripadanya ( diri yang satu itu ) Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu berulang ulang maka mengandunglah dengan kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". (Q.S.7/ Al-A’raf :189)
Ayat ini menjelaskan bahwa Manusia berasal dari “Diri yang satu”. Perkatan Diri/ Nafs ( نفس  ) menunjukkan bahwa Nafs-wahidah itu adalah Tubuh-Ruhani, bukan tubuh pisik. Kalau tubuh Fisik Allah mengisyaratkan dalam Quran dengan kata :Jasad ( QS.21/ Al-Anbiya’ : 8 ), Jisim ( QS. 2/ Al-Baqarah : 247 ). Badan ( QS. 10/ Yunus : 92 ). Siapakah Diri yang satu itu ? Pastilah seorang Homosapien yang bertubuh  Rohani dan Jasmani. Umumnya Ulama berpendapat “diri yang satu” itu adalah Adam, apakah kata kata dalam ayat itu benar benar menunjukkan diri yang satu adalah Adam ? Bukankah perkataan زَوْجَهَا bermakna : “suaminya “. Mari kita pisahkan dhomir yang melekat dikata Zaujaha jadi : zaujun = suami. Zaujatun =istri. Jadi kata : وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا = dan ( Dia ) menciptakan dari nya ( diri yang satu ) suaminya, bukankah diri yang satu itu sorang perempuan ?. Terjemahan yang berasal dari Kitab Tafsir adalah terjemahan Maknawiyah yang terhanyut oleh faham sipenterjemah yang sudah tertanam dijiwanya kisah Adam yang  diwarisi dari penafsir masa lampau. ( Pembahasan lebih mendalam kita lanjutkan nanti difasal berikut )
Berfirman Allah :
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ>
“Dan  ketika Tuhanmu telah mengambil ( sumpah  ) dari anak-anak Adam (manusia ) dari sulbi  keturunan  mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami telah bersaksi", agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lalai terhadap kejadian ini." ( Q.S. 7/Al-A’raf : 172).

( Catatan : kata Sulbi diayat tersebut maksudnya bukan tulang sulbi tapi kata ganti untuk kata  Zhuhur yang makna harfiahnya : tulang belakang, dari tengkuk sampai ke tulang ekor )

            Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah mengambil sumpah semua anak-Adam   ( manusia ) yang mereka masih di alam ruh sebelum turun kebumi memasuki ibu-ibu hamil dibumi, disana ( dialam ruh ) mereka telah bersyahadat bersaksi dan mengakui bahwa Tuhan Manusia adalah Allah. Tapi setelah Ruh-ruh itu menjadi manusia berpisik maka lupalah dia bahwa pernah bersumpah didepan Allah.  
Ketika Ruh-bibit-manusia dari anak cucu Adam dilepaskan dari Nafs Adam-ruhani mereka langsung turun kebumi dimana ada perbedaan Waktu antara alam Gaib  ( Alam Ruh dan alam Syahadah di Bumi : 1 hari di alam ruh = 1000 tahun dibumi). Dialam Ruh waktu berlalu sehari tapi Ruh-bibit-manusia yang sampai dibumi sudah mengalami ribuan tahun maka sempat anak Cucu Adam berkembang biak di bumi ribuan tahun kerena ketika Ruh anak Adam turun kebuni Adam belum lagi diturunkan. Ruh-Bibit manusia itu turun diseluruh permukaan bumi di Eropa, Afrika dan Asia dimana saja Homo Erektus ada berkembang biak.        ( Ruh-bibit-manusia yang dialam Ruh itu semua berpasang-pasangan, tapi sepasng bukan berarti dua orang seperti sepasang jari bukan jumlahnya dua tapi lima, jadi Ruh yang berpasangan itu ada yang lebih dari dua karena itulah maka disunnahkan bagi umat Islam berpoligami). Setelah Ruh-bibit Manusia bertebar dialam Ruh dan ada yang sudah turun kebumi maka tinggallah sepasang yaitu Adam dan Hawa) Setelah Ruh-ruh anak Adam itu memasuki kandungan ibu-ibu hamil Homo Erektus maka barulah lahir generasi baru yang disebut Homo Sapien makhluk sempurna ( Insan Kamil ) yang memiliki Jasmani dan Rohani. Kerena Homo Sapien lahir diseluruh Benua itulah sebabnya Bani Adam jadi bermacam-macam Ras, dan bermacam bahasa serta bermacam  warna kulit; sebagaimana yang telah difirmankan Allah pada ayat 30 Surat Ar-Rum yang telah dikutip diatas :

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Ia telah menciptakan langit dan bumi, bahasa kamu yang berbeda-beda dan kulit kamu yang beraneka warna. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang berilmu” (Q.S. 30 / Ar-Rum: 22).

Selanjutnya Allah berfirman ::

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا>

“Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu  dan dari diri yang satu itu Allah menciptakan pasangan hidupnya dan berkembangbiaklah dari keduanya manusia banyak, laki-laki dan perempuan. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, yang kamu saling meminta (saling membutuhkan) dengan (berkah)-Nya dan hidup saling berkasih sayang, sesungguhnya Allah adalah penjaga kamu.” (Q.S. An-Nisa / 4: 1)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kepada Adam sudah diberikan pasangan hidupnya dari belahan dirinya sendiri, maksudnya setelah Adam mengeluarkan Ruh anak cucunya berupa Ruh-bibit-Manusia yang berada dialam Ruh, yang terakhir mewujud adalah pasangan untuknya sendiri, calon istrinya yang kita kenal dengan nama Hawa. Bersama Hawa Adam hidup bersenang senang di Alam Ruh atau  Surganya Adam yang oleh suatu kejadian Adam harus turun dari Alam Ruh yang berdimensi tinggi ( Hight Dimensi/ D-h kebumi      ( D-3)

              Selanjutnya Allah berfirman :
وَقُلْنَا يَاآدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ >فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ، وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُم الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ >قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ>

“Dan Kami katakan ( kepada Adam ): ‘Hai Adam diamilah olehmu dan istrimu  Taman indah ini (Jannah) dan makanilah buah-buahan dalam Jannah yang amat menyenangkan itu apa saja yang kamu sukai dan janganlah kamu dekati ini As- Syajarah, nanti kamu akan menjadi zalim. Keduanya (Adam dan Hawa) digelincirkan oleh Syaitan dari larangan itu maka keluarlah keduanya dari tempat itu dimana keduanya pernah berada, dan Kami katakan lagi: ‘Turunlah kamu! Sebahagian kamu dengan sebahagian lainnya menjadi musuh dan bagi kamu di bumi itu tempat menetap sampai pada waktu yang ditentukan. Kami katakan lagi: ‘Turunlah kamu dari Jannah semuanya! Maka jika datang petunjuk-Ku kepadamu yang siapa saja yang mengikut petunjuk-Ku itu maka tidak perlu takut dan tidaklah mereka itu akan bersedih hati.”
(Q.S. Al-Baqarah / 2: 35, 36, 38)

فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى ءَادَمُ رَبَّهُ فَغَوَى . ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى
“Maka keduanya memakan buah Syajarah itu maka terlihatlah oleh keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun yang ada di kebun itu, dan Adam telah melanggar hukum (aturan) Tuhannya maka gagallah ia.” 
”Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” (Q.S.20/ Thaha: 121, 122)

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى

“Berfirman Allah: ‘Turunlah kamu berdua dari Jannah ini bersama-sama, ( kelak ) sebagian kamu dengan bahagian lainnya akan saling bermusuhan…” (Q. S.20/ Thaha: 123)
Dari ayat ayat diatas dapat kita serap makna yang tersirat :
Adam sebagai makhluk Ruhani yang waktu itu diperintahkan tinggal di Jannah. Jannah makna dasarnya adalah Taman, kebun, jadi Adam ketika itu bukan tinggal di Surga-Abadi-Akhirat, kerena Surga akhirat adanya setelah kiamat dan tidak mungkin Syetan/Iblis berada dalam Surga menggoda Adam..
Di Jannah ( Alam Ruh ) Adam dan Hawa bersenang senang boleh memakan apa saja yang ada di Jannah hanya  ada satu larangan  “jangan mendekati Syajarotu’ khuldi”, namun Adam dan Hawa terlanjur melanggar pantangan itu maka Adam dan Hawa dan Sang-Iblis penggoda diusir dari Jannah itu.  Iblis menempati alam  D-4 ( alam Jin ) dan Adam menempati Bumi ( D-3 ).  Adam yang tadinya berada di Jannah, semua serba kecukupan apa yang terpikir terus mewujud maka nanti dibumi, segala apa yang diinginkan harus dicari dengan kerja keras  itulah ciri kehidupan dunia tapi orang sangat mencintainya. (QS.20/ Thaha : 121 ). Karena kesalahan yang lebih fatal adalah pada diriperibadi Hawa maka Hawa yang duluan turun kebumi memasuki Rahim ibu hamil dibumi dan lahirlah sebagai seorang putri yang tercantik dibumi, bagaimana pertemuan Adam dan Hawa di bumi ? Baca lanjutan di :Misteri Manusia XXIX